Tampilkan postingan dengan label Kue Tradisional Panggang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kue Tradisional Panggang. Tampilkan semua postingan

Lumpur Pandan


Kali ini saya bikin lumpur pandan yang ga hejo. Kenapa ga hejo? karena hejonya nanggung banget, kayaknya daun suji dan daun pandannya lagi ngambek nih, jadinya si hejo ala kadarnya. Di foto aja entah yang ketangkap warna hejo atau bukan, entahlah..

Saya selalu suka dengan kue lumpur. Entah seberapa sering saya bikin kue lumpur, yang pasti cukup sering sehingga di blog saya itu mudah sekali ditemukan postingan kue lumpur dalam berbagai variasi. Engga pernah bosan makan kue lumpur. Eh iya, saya belum ketemu lho yang jual kue lumpur di Pontianak. Mungkin karena kue lumpur bukan kue yang famous di Pontianak. Tiap ada acara entah itu arisan atau pengajian, saya selalu bikin kue lumpur. Yang cicipin kue lumpurnya suka takjub dengan rasa dan tekstur kue lumpur. Mungkin karena kue lumpur bukan kue yang dijual bebas ya (kayak obat aja ada yang dijual bebas). Hohoho....

Tekstur lumpur yang saya bikin ini ga gampang hancur, jadi jangan khawatir kalau kue akan hancur ketika diangkat dari cetakan. Kuenya lembut tapi tetap kokoh.

Resep hasil modifikasi saya.

Bahan:
3 butir telur
100 gram gula pasir
150 gram kentang, kukus, haluskan (saya gunakan 30 gram kentang flakes + air panas ditimbang hingga 150 gram, aduk rata)
150 gram tepung terigu
75 gram margarin cair
400 ml santan kental (saya gunakan 200 ml santan instant + 200 ml air hangat)
15 lembar daun suji + 10 lembar daun pandan, cuci bersih, potong seukuran 5 cm
50 gram daging durian

Cara Membuat:
- Blender daun suji, daun pandan, dan santan kental hingga halus. Saring ampasnya, ambil santannya)
- Masukkan telur, gula pasir, kentang, tepung terigu, mentega cair, santan yang sudah diblender, dan daging durian ke dalam blender. Proses hingga adonan menjadi halus.
- Panaskan cetakan kue lumpur, alasi bagian bawah dengan loyang bekas supaya panasnya merata.
- Jika sudah panas, olesi cetakan dengan margarin.
- Tuang adonan ke dalam cetakan hingga 3/4 dari tinggi cetakan. Biarkan hingga setengah matang, beri kismis, tutup cetakan. Biarkan hingga matang. Angkat dan sajikan.

Kue Bapel


Kue bapel itu beda ya dengan kue wafel. Kue bapel itu kue yang Indonesia banget. Dimakan begitu saja. Kalau wafel itu kue bule yang dimakan dengan madu atau sirup maple. Yang biasa disajikan di cafe dan resto-resto itu ya wafle, bukan bapel. Saya belum pernah ketemu cafe dan resto yang jual bapel. Hehehe...

Bapel itu berasa sekali raginya. Mungkin karena proses fermentasi yang lama. Jadi berasa makan kue tape. Kalau kue yang berbentuk hati yang biasa dijual di warung-warung Pontianak, itu bukan bapel dan bukan wafle ya. Namanya memang bapel, tapi rasanya beda dengan bapel yang ini. Kue yang berbentuk hati itu buat saya lebih mirip dengan kue pukis terigu.

Oh ya, kuenya memang gini ya. Cuma satu sisi yang akan berwarna kecoklatan, walau sudah ditutup pun, tapi bagian atasnya hanya akan bermotif, tidak akan sampai kecoklatan. Di buku pun cuma satu sisi yang kecoklatan. Harusnya adonan ini didiamkan selama 4 jam. Tapi kelamaan buat saya, ga sanggup saya nunggu sampai 4 jam. Jadinya saya cuma menunggu 1 jam.

Resep didapat dari bukunya Ibu Sisca Susanto - Kreasi Jajan Pasar. Resep di bawah ini untuk 1 resep. Saya bikin 1/2 resep bisa mendapat 30 buah.

Bahan:
6 butir telur
350 gram gula halus
1/2 sdt vanila
250 gram tepung terigu
1 sdm mentega, cairkan
350 cc santan kental dari 2 butir keluarga (saya gunakan santan instant yang dicairkan dengan perbandingan 1:1)

Untuk Biang:
1 sdm ragi instant
150 gram tepung terigu
200 cc air dingin (air es)
Aduk semua bahan dan diamkan selama 15 menit

Cara Membuat:
- Kocok telur, gula, dan vanila hingga putih dan mengembang. Sisihkan.
- Campur biang dengan tepung terigu dan santan kental. Tuangkan mentega cair dan kocokan telur, aduk rata. Diamkan selama 4-5 jam.
- Panaskan cetakan khusus untuk kue bapel. Olesi mentega / margarin. Tuang adonan, tutup dan panggang selama 15 menit. Angkat. Hidangkan.

Kue Bika


Ini adalah kue bika khas Padang, bukan bika ambon, bukan juga kue cubit karena menggunakan cetakan kue cubit, dan bukan kue bingka. Pernah makan kue bika padang? Di sebagian besar masyarakat Sumatera Barat menyebutnya kue bakar, karena kue ini dibakar di dalam tumpukan kayu bakar. Cetakannya berbentuk bintang (yang sampai tulisan ini dibuat, saya masih ga tahu seperti apa cetakan aslinya) dan dilapisi dengan daun waru sehingga kue beraroma khas daun waru dan kayu bakar.

Buat yang ga tinggal di Padang tapi kepengen coba bikin kuenya, bisa menggunakan cetakan seperti yang saya gunakan ini. Di bukunya juga disebutkan, menggunakan cup muffin pun juga bisa. Tapi kalau kue tradisional pake cup muffin kok nabrak banget ya rasanya, ga tega saya. Jadilah saya menggunakan cetakan kue cubit berbentuk bunga, biar lebih mendekati kue bika yang asli. Yang saya bikin ini pun juga menggunakan oven ya, bukan menggunakan kayu bakar.

Resep saya ambil dari bukunya Tim Dapur Demedia - Aneka Masakan Padang. Satu resep bisa dapat 24 buah jika menggunakan cetakan yang seperti saya gunakan.

Bahan:
250 gram tepung beras
200 gram tapai singkong
100 gram gula putih
300 ml santan
150 gram kelapa parut
2 sdt baking powder.

Cara Membuat:
- Campurkan tepung beras, tapai singkong, dan gula putih, aduk rata.
- Tuangkan santan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga tercampur rata.
- Tambahkan kelapa parut dan baking powder, aduk rata. Diamkan selama 15 menit.
- Siapkan cetakan muffin, alasi dengan paper cup. Tuang adonan ke dalam cetakan, lalu panggang di dalam oven hingga matang. Keluarkan dari oven dan cetakan, sajikan.

Rangi


Di buku resep ditulis namanya ranggit, tapi saya rasa, bukan ranggit tapi rangi. Kalau dilihat dari bahan pun ya memang rangi. Saya koreksi bukunya ya bu, maaf.

Kue khas betawi yang menggunakan cetakan mirip cetakan pancong tetapi berukuran kecil ini juga tidak mudah untuk ditemukan di jakarta. Sudah langka. Biasanya kuenya dijual per papan. Pas mudik kemaren, saya belum nemu yang jual kue rangi ini.

Jadi ini uji coba saya. Kalau kue rangi betawi itu di atasnya dikasi gula merah cair. Nah, mungkin karena kue ini untuk kue tampah, kotor dong ya kalau gula merah cairnya berceceran kemana-mana, jadinya dibuat plain tanpa gula merah. Tapi karena tanpa gula merah, rasanya tawar gurih gitu.

Resep diambil dari bukunya Lilly T Erwin - 25 Kreasi Antaran Kue Nampan

Bahan I:
100 gram kelapa parut 1/2 tua
100 gram tepung sagu
1 butir telur ayam
200 ml air

Bahan II:
50 gram tepung beras
200 ml santan encer
Garam secukupnya
1 lembar daun pandan, simpulkan

Cara Membuat:
- Campur bahan I menjadi satu, aduk rata.
- Campur bahan II menjadi satu. Masak di atas api sambil diaduk-aduk.menjadi bubur, angkat.
- Campur bahan I dan bahan II menjadi satu. Aduk rata dan sisihkan.
- Panaskan cetakan kue pancong di atas kompor, olesi minyak.
- Tuangi adonan lalu masak sambil ditutup hingga matang. Angkat.
- Sajikan.

Kue Cubit


Hari ini Pontianak lebih berasap lagi. Foto ini diambil tadi sore karena kuenya selesai dibikin udah sore. Foto diambil jam 16.30. Harusnya masih terang kan? Ini iso-nya udah dinaikin jadi 800. Tapi masih aja gelap. Udah disotosop pun tetep tidak akan seterang yang awal mula diinginkan. Sambil moto, sambil niupin jerebu yang nempel di kueh. Saya salah memperhitungkan strategi, udah ga bisa lagi moto pagi atau sore. Jadi mesti moto siang banget itupun di luar. Benar-benar di bawah matahari kalau mau dapet efek terangnya. Kangen moto pagi dan sore di tepi jendela. Beberapa hari ini hidung gatel, flu juga ga berhenti semenjak asap mulai menebal. Ohh... kami merindukan udara bersih.

Maaf curcol ya. Okeh balik lagi ke kue cubit. Ini kali kedua bikin kue cubit. Kali ini pake cetakan pofertjes biar lucu aja bentuknya, one bite gitu. Atasnya saya kasi cokelat koin dari parcel lebaran yang sampai sekarang belum habis dimakan. Ternyata karena kue cubitnya kecil terus dikasi cokelat koin jadi lucuu banget bentuknya. Ketika cokelat koinnya mau ditempelin ke atas kue cubit, tunggu kue cubitnya udah mau diangkat ya baru dikasi. Kalo engga entar cokelatnya lumer terkena panas. Ketika kue diangkat dari cetakan pun hati-hati karena cokelat koinnya gampang melorot kalau diangkatnya dalam posisi miring. Dannn entah kenapa saya itu bukan pecinta kue cubit setengah mateng. Padahal yang lagi kekinian itu yang setengah matang kan ya...

Resep diambil dari bukunya Hadi Anto dan Topan - Kue Mungil Sajian Istimewa. Aslinya kue cubit ini plain. Tapi saya bikin versi cokelatnya. Sukakk deh sama resepnya. Saya bikin setengah resep jadinya lebih dari 80 buah kue yang berukuran mini seperti ini.

Bahan:
6 butir telur ayam
375 gram gula pasir (untuk setengah resep saya pakein 100 gram cokelat masak yang dilelehkan + 60 gram gula pasir)
1 sdt vanila bubuk
1 sdt ragi instant
500 gram tepung terigu (untuk setengah resep saya gunakan 200 gram terigu + 50 gram cokelat bubuk)
100 gram tepung maizena
750 ml santan kental
200 ml susu kental manis (untuk setengah resep saya gunakan 3 sachet susu kental manis cokelat)
175 gram margarin, cairkan
Garam secukupnya

Cara Membuat:
- Kocok telur, gula pasir, vanili bubuk, dan ragi instant hingga putih dan mengembang.
- Masukkan tepung terigu dan tepung maizena, aduk hingga rata.
- Tuang santan, susu kental manis, dan garam, aduk rata. (tuang santan secara perlahan, disini saya menambahkan cokelat masak yang sudah dilelehkan)
- Masukkan margarin, aduk hingga rata. Diamkan adonan selama 1 jam. (adonan akan bergerindil, tetapi apabila tepung sudah tercampur rata, tidak masalah)
- Panaskan cetakan, tuang adonan hingga 3/4 tinggi cetakan. Panggang hingga matang. (cetakan saya oles dengan margarin biar mudah angkatnya, pastikan adonan tidak penuh karena kue akan mengembang ke atas)

Lumpur Durian


Bikin lumpur lagiii. Bosan ya lihat saya sering posting kue lumpur? Hihihi... maap. Soalnya kue lumpur bisa jadi kue sambilan yang saya buat disambil ngerjain yang lain. Karena memanggangnya lama, jadi ya bisa sambilan.

Kebetulan ada durian yang dibeli oleh ayahnya kirana sama bibi yang biasa lewat di depan ditoko, beli 2 buah doang dan ternyata salah satu durian ini ternyata tawar, jadinya ya dibikin kue aja. Karena udah lama ga makan lumpur durian, jadi ide pertama yang terlintas ya lumpur ini. Eh ya, durian di Pontianak masih mahal, kemaren beli ukuran sedang kena 35 ribu / buah, berat dagingnya cuma 135 gram, hohoho....

Saya paling doyan uji coba resep kue lumpur. Ga boleh nemu resep kue lumpur, rasanya tangan gatal pengen nyobain. Seperti kali ini cobain resep yang baru lagi. Cuman saya mau koreksi dikit resepnya, di uji coba pertama sesuai resep, ternyata kue lumpurnya lembut sekali, saking lembutnya sampe banyak yang patah ketika diangkat, ketika matang pun menciut. Bagi penggemar kue lumpur yang super lembut, resep asli ini boleh dicoba. Kemudian setengah resepnya lagi saya coba tambahi tepung terigu, hasilnya kue lumpur jadi jauh lebih padat dan mudah ketika dikeluarkan dari cetakan. Saya pribadi lebih senang kue lumpur dengan terigu yang ditambah karena bentuknya tetap cantik ketika dikeluarkan dari cetakan kue lumpur. Mau lihat perbandingan antara bagian pertama resep asli dan bagian kedua dengan tambahan terigu? Di gambar saya perlihatkan keduanya. Yang di atas itu buatan bagian pertama, dan yang di bawah itu buatan bagian kedua. Suka yang mana? Silakan disesuaikan dengan selera masing-masing.

Resep saya ambil dari bukunya Nindya Widoyo - 40 Sajian Lezat Hasil Olah Durian

Bahan:
4 kuning telur
2 putih telur
150 gram gula pasir (saya pakai 100 gram gula pasir)
1/4 sdt garam
400 gram kentang kukus, haluskan
50 gram tepung terigu (saya sarankan menjadi 100 gram)
300 ml santan kental dari 1/2 butir kelapa (saya pakai santan instant)
1 sdt pasta durian (saya ga pake)
50 gram daging durian (saya gunakan 135 gram daging durian)
3-4 sdm jagung manis / kelapa muda kerok / kismis (saya gunakan kismis kuning dan hitam, rendam sebentar di air hangat, tiriskan)

Cara Membuat:
- Kocok kuning telur, putih telur, gula, dan garam hingga mengembang.
- Masukkan tepung terigu dan kentang. Tuangkan santan dan pasta durian, aduk hingga rata.
- Masukkan daging durian, kocok dengan mikser kecepatan rendah kurleb 1 menit.
- Panaskan cetakan kue lumpur yang sudah diolesi sedikit minyak, lalu masukkan adonan, tutup dan beri bara api di atasnya. (saya tidak menggunakan bara api)
- Panggang hingga setengah matang dengan api kecil, lalu taburi atasnya dengan jagung manis / kelapa muda / kismis. Teruskan memanggang hingga matang.

Pukis


Akhirnya saya bikin pukis juga. Setelah lama cetakan pukis itu terdampar di rumah saya, akhirnya saya berdayakan saja. Alhamdulilah masih ada waktu buat ngebuatnya. Untuk camilan Kirana nih ceritanya.

Seperti biasa, edisi kali ini masih dibantu sama Kirana. Semangat sekali Kirana ngebantu bikin kue. Yang namanya kue seperti ini kan memanggangnya cukup lama, Kirana ga sabaran aja bawanya. Berkali kali bolak balik depan tv dan dapur buat nanyain kuenya udah masak atau belum. Kata perut, perut lapar. Duhh si cantik itu begitu menggemaskannya.

Pukis yang saya bikin ini yang versi ga berlubang-lubang kuenya. Kalau buat saya, rasanya malah mirip martabak bolu. Hmm enak. Karena di rumah masih ada meises hadiah dari Chefmate, sekalian aja dicobain pake untuk toppingnya sosis. Kirana sukaaa


Resep diambil dari bukunya Tim Dapur DeMedia - Aneka Jajanan Pasar Populer. 1 resep ini untuk 31 buah pukis ukuran sedang.

Bahan:
250 gram tepung terigu
1 sdt ragi instant
4 butir telur
200 gram gula putih (saya pakai 150 gram)
300 ml santan dari 1/2 butir kelapa (saya gunakan santan instant + susu cair)
3 sdm margarin untuk olesan
3 sdm meises
50 gram keju cheddar, diparut (saya ga pake)

Cara Membuat:
- Ayak tepung terigu, lalu campur dengan ragi instant, aduk rata. Kocok telur dan gula hingga kental dan mengembang. Masukkan campuran tepung terigu sedikit demi sedikit, aduk rata. Tambahkan santan, aduk hingga rata. Diamkan selama 30 menit.
- Panaskan cetakan kue pukis, olesi dengan margarin. Tuangkan adonan ke dalam cetakan kue pukis hingga tiga perempatnya. Setelah bagian tepi membeku, taburkan meses atau keju. Biarkan hingga matang. Angkat dan sajikan dalam keadaan hangat.

Khamir


Ingat khamir itu jadi ingat pas mudik kemaren di pekayon kan ada jual khamir di depan indomaret atau alfamart, sebenarnya cukup sering ngelewatin abang-abang yang jualnya, kepengen beli juga karena saya belum pernah makan. Si abang itu jual ada isi macem-macem, ada cokelat, stoberi, nenas, dll. Tapiii tiap ngelewatin si abang kok ga pernah singgah, cuma niat aja pengen singgah. Sampailah balik ke pontianak, dan saya lupa dengan si abang penjual khamir beserta lupa akan khamirnya. Pas beberapa hari yang lalu buka-buka buku ncc, ngeliat resep khamir. Ingatan itu pun muncul kembali. Akhirnya saya coba untuk bikin. Mudik tahun ini saya niatin deh cobain khamir si abang. Mudah-mudahan si abang masih jualan.

Di pontianak kayaknya ada deh yang jual khamir. Soalnya ada yang pernah ke toko nanyain cetakan kue khamir. Saya ingat pelanggan yang itu karena cukup unik buat saya. Suaminya orangnya saklek, maunya cetakan khamir yang sesuai diameter yang dia mau karena kakaknya punya cetakan yang seperti itu. Di toko saya ga ada jual seukuran yang bapak itu pengen. Bapak itu pokoknya ngotot pengen yang sama dengan yang dipunya kakaknya. Padahal kalau mau mudah, ya pake aja yang lebih kecil terus dimurahin harganya, kan mudah. Pada waktu itu entah beberapa kali bapak tersebut beserta istrinya buat ngecek cetakan khamir. Entah sekarang udah jualan atau belum kue khamirnya. Saya ga tahu beliau jualan dimana. Kalau rute-rute saya biasa jalan sih belum pernah nemuin yang jualan kue khamir ini.

Idealnya cetakan khamir itu berbentuk setengah bulatan. Benar-benar bulatan karena kuenya akan dibalik supaya kedua sisinya matang. Karena di rumah ga ada cetakan seperti itu, jadi saya putuskan untuk menggunakan cetakan kue lumpur. Biarpun bentuknya ga sama, yang penting rasanya kan sama.


Resep diambil dari bukunya Bu Fatmah Bahalwan dan Tim NCC - 241 Resep Makanan Favorit Anti Gagal. Di resep asli menggunakan tapai sebagai bahan untuk fermentasi, tapi nunggunya lama banget sampe 9 jam. Kata Bu Fat,bisa diganti dengan ragi instant dan waktu fermentasi cuma 3 jam saja. Jadi yang saya bikin versi ragi instant

Bahan:
500 gram tepung terigu protein tinggi
250 gram gula pasir
250 gram tape singkong (saya gunakan 1/2 sdt ragi)
100 gram margarin lelehkan
1 butir telur
½ sdm soda kue
½ sdt garam
Air matang secukupnya

Cara membuat:
- Bersihkan tape dari seratnya, campur dengan gula pasir, remas-remas. Sisihkan. (saya tidak pakai tape)
- Cairkan soda kue dengan sedikit air, sisihkan.
- Campur tepung terigu dan bahan lainnya dalam wadah, uleni perlahan dengan telapak tangan terbuka. (saya tambahkan ragi di proses ini dan diaduk pakai spatula)
- Tambahkan air sedikit demi sedikit hingga menjadi adonan kental dan lembek. Diamkan selama 9 jam. (karena pakai ragi instant, saya diamkan 3 jam)
- Panaskan cetakan khamir, olesi dengan mentega. Tuangi 1 sendok sayur adonan. Biarkan hingga terlihat bersarang dan matang bagian bawah, balik, teruskan memasaknya hingga matang. Tes dengan ditusuk bila perlu. Angkat.

Kue Lumpur Pisang Keju


Kue lumpur itu ada yang versi kukus, dioven, dan dipanggang langsung di atas kompor. Ini kali pertama saya bikin kue lumpur yang dioven. Seringnya itu bikin kue lumpur yang langsung dipanggang di atas kompor. Kalau kue lumpur yang dikukus saya belum pernah coba, ntar ya kapan-kapan saya bikin kue lumpur yang dikukus.

Kalau menurut resep, harusnya pakai cetakan kue lumpur. Tapi saya uji coba pakai cetakan cupcake berbentuk oval. Biar beda aja. Saya coba dengan dipanaskan cetakan dan tidak dipanaskan. Ternyata hasilnya sama saja. Sama-sama sulit melepaskan kue dari cetakan. Jadi tunggu kue dingin baru tepi cetakan disisik (apa ya bahasa indonesianya... kira-kita tepi cetakan ditusuk kemudian diputar ke sekeliling cetakan) pakai sendok tipis lalu tarik, mirip kita ngelepasin chiffon cake dari loyangnya. Kalau melepaskan kuenya dalam keadaan kue panas, maka kue akan hancur, nempel dicetakan.

Rasanya hmm enak sekali, perpaduan antara kue lumpur dan kue sus. Garing-garing gitu pinggiran kuenya. Kue pun ga terlalu manis, cenderung gurih dari kejunya yang cukup banyak.Karena keju tidak diparut, maka potongan keju ketika digigit betul-betul terasa. Karena keju di dalam adonan sudah banyak, jadi saya tidak menambahkan parutan keju di atasnya.


Resep diambil dari bukunya Dapur Aliza - 25 Macam Kue Indonesia Populer Dari 5 Model Cetakan

Bahan:
100 gram margarin
250 ml air
150 gram tepung terigu
100 gram gula pasir
100 gram keju cheddar parut (saya potong dadu kurleb 0,5 cm)
1 sdt garam
1/2 sdt vanila bubuk
5 butir telur ayam, kocok (saya kocok dengan whisk)
350 ml santan dari 1 butir kelapa

Cara Membuat:
- Panaskan margarin bersama air, gula pasir, garam, dan vanili. Setelah mendidih, masukkan tepung terigu, aduk rata dan angkat. Masukkan telur kocok, keju parut dan santan ke dalam adonan, aduk hingga menjadi adonan yang kental.
- Olesi cetakan kue lumpur dengan minyak. Panaskan dalam oven. Setelah cetakan panas, tuang adonan 3/4 penuh. Masukkan kembali cetakan ke dalam oven. Panggang setengah matang, tambahkan 2-3 iris pisang dan keju parut. Panggang kembali hingga matang. Angkat.

Lempeng Pisang


Yang saya tahu lempeng pisang itu makanan khas asli banjarmasin. Dulu ibu saya sering membuat lempeng pisang. Beliau bilang ini "wadai banjar". Nah.. pas saya buka-buka buku resep dari malaysia, saya lihat ada resep lempeng pisang. Ternyata lempeng pisang ini juga dikenal di malaysia. Namanya pun sama yaitu lempeng pisang. Kalau lempeng pisang ala ibu saya itu pakai telur dan air, mirip adonan jemput-jemput gitu tapi kalau jemput-jemput kan digoreng, kalau lempeng pisang ala ibu saya dipanggang di atas teflon. Nah.. resep lempeng pisang yang dari malaysia ini malah mirip banget dengan lopak-lopak oku dari oku sumatera selatan yang dulu pernah saya bikin. Tanpa air dan telur, juga dipanggang di atas teflon.

Ini yang kedua kali saya bikin lempeng pisang. Lempeng pisang pertama saya bikin kemaren, bentuknya tak karuan karena saya panggang di atas teflon anti lengket yang ternyata ga anti lengket. Alhasil pada nempel lempengnya. Tragis banget liatnya. Walau tetep masih bisa dimakan tapi kan ga cantik buat difoto. Akhirnya tadi pagi saya bikin lagi. Kali ini pakai cetakan kue cubit hadiah dari ci yuli waktu ncc brownies week yang lalu. Harusnya memang berbentuk lempengan, tetapi karena saya pakai loyang kue cubit, jadi lempengan saya sudah ga berbentuk lempengan lagi. Ada yang bentuk hati, bulat, segitiga, bunga, segienam. Memang ga lazim sih bentuknya seperti ini. Tapi kan yang penting bentuknya bagus, hehehe....

Resep saya ambil dari bukunya Chef Hanieliza - Resipi Kompilasi Warisan. Resep sudah saya terjemahkan ke bahasa Indonesia.

Bahan:
7 buah pisang berangan
1 cup tepung terigu, ayak
1/2 sdt garam
2 sdm gula

Cara Membuat:
- Hancurkan pisang di dalam mangkuk (saya hancurkan menggunakan garpu).
- Masukkan gula dan garam, aduk rata.
- Masukkan tepung terigu, aduk rata.
- Panaskan pan anti lengket dengan api paling kecil.
- Letakkan 1 sendok adonan dan ratakan sedikit.
- Tutup pan, balik jika sisi bawah sudah kekuningan.
- Angkat dan siap dihidangkan.

Kue Bolu Cubit


Ahaaaa akhirnya saya uji coba juga snack makernya. Ini adalah snack maker yang saya dapatkan sebagai hadiah NCC Brownies Week dari Ci Yuli. Bahannya bagus banget, anti lengket, tapi bukan bahan teflon. Coba liat bahannya, beda kan dengan teflon. Suka deh dapat snack maker yang oke gini.

Percobaan saya kenalan dengan gadget baru. Masih berusaha mengenali karakteristik cetakannya. Ternyata kue sangat cepat matang walau apinya udah kecil banget. Dari atas ga terlalu keliatan kalau sudah matang, dari samping pun masih kekuningan, di bagian bawah rupanya sudah keburu coklat. Kalo ga salah ada yang pernah cerita kalau cetakan yang seperti ini harus dipakein alas. Entar deh untuk uji coba berikutnya saya pakein alas loyang bekas sebagai dasarnya supaya cetakan ga langsung kena api.

Eh ya.. saya itu orangnya agak ngeyel. Di resep bilang langsung dikasi topping meises atau keju pada saat adonan masih mentah. Saya pikir nanti lah tunggu setengah matang baru dikasi topping. Saya tinggal cuci piring, ketika saya cek lagi, olalaaa kue cubitnya sudah benar-benar matang. Ga bisa lagi dikasi topping. Ya sudahlah, kita makan polosan aja atau dikasi selai coklat enak juga.


Resep saya ambil dari bukunya Ibu Sisca Susanto - Kue Serba Panggang Ala Kaki Lima. Satu resep ini cuma dapat satu loyang snack maker. Tapi snack makernya berukuran jumbo. Makan satu aja udah kenyang saking jumbonya.

Bahan I:
3 butir telur
100 gram gula pasir
1/2 sdt cake emulsifier

Bahan II:
100 gram tepung terigu
1/2 sdt vanili cair
1/2 sdt baking powder

Bahan III:
75 gram mentega, cairkan

Pelengkap:
Keju parut dan meises secukupnya

Cara Membuat:
- Kocok sampai kental bahan I, lalu masukkan bahan II dan kocok dengan kecepatan rendah.
- Tuang mentega cair, aduk hingga tercampur rata.
- Siapkan cetakan kue cubit, olesi dengan mentega, dan panaskan. Tuang adonan, taburi keju dan meises di atasnya, lalu panggang sampai matang.

Lumpur Ubi Jalar


Saya ini bukan pecinta ubi-ubian. Ketika bibi yang biasa jualan sayur nawarin ubi jalar, saya agak ogah-ogahan mau beli. Tapi akhirnya dibeli juga. Satu bungkus isinya sekilo. Harganya enam ribu saja. Disimpan di kulkas sampai beberapa lama dan tidak ada ide mau dibikin apa. Akhirnya pas mau bikin kue untuk arisan keluarga, saya baru kepikiran untuk bikin kue lumpur dari ubi jalar. Ternyata enak lo rupanya. Ubinya lebih dominan daripada terigu.

Di resep asli menggunakan ubi ungu, tetapi bisa diganti dengan ubi kuning, ubi putih, labu kuning, atau kentang. Di resep asli pun menggunakan cara membuat yang agak cukup ribet buat saya. Dan biasanya dengan cara membuat seperti itu hasil adonan akan menggerindil. Karena saya mau praktis, saya campur saja semua bahan di dalam blender. Selesai deh.. Hasilnya adonan akan halus dan mulus, praktis, dan ga ribet. *ini cara sesat ala saya* Oh ya.. kalau mau ikutan diblender juga, gunakan ½ resep untuk satu kali blenderan. Kalau untuk ½ resep maka akan menghasilkan ¾ gelas blender.

Resep saya ambil dari bukunya Diah Surjani – Kue Kue Mungil Dalam Nampan. Di resep asli namanya kue lumpur ubi ungu. Untuk satu resep bisa dapat 38 buah kue lumpur seukuran 6 cm.

Bahan:
500 ml santan (saya gunakan santan instant)
60 gram margarin
½ sdt garam
¼ sdt vanili bubuk
180 gram tepung terigu
250 gram gula pasir
300 gram ubi ungu, kukus, haluskan (saya pakai ubi jalar, kukus, baru ditimbang, tidak saya haluskan)
5 butir telur
50 gram daging buah nangka, potong dadu kecil (saya pakai kismis)
50 gram tapai ketan hitam (saya ga pake)

Cara Membuat: (saya tidak melakukan seperti instruksi di bawah, tapi semua bahan langsung saya blender)
- Masak santan, margarin, dan garam sampai mendidih. Matikan api, masukkan tepung terigu sekaligus, aduk dengan sendok kayu sampai kalis (adonan tidak melekat di panci)
- Masukkan gula pasir dan ubi ungu, aduk hingga rata. Diamkan sampai hangat. Masukkan vanili dan telur satu per satu sambil dikocok perlahan.
- Oles tipis cetakan kue lumpur dengan margarine atau minyak, panaskan di atas api kecil. Tuang adonan kue lumpur sampai ½ tinggi cetakan, tutup dan biarkan sampai setengah matang. Taburkan nangka dan tapai ketan hitam, tutup kembali dan masak sampai matang. 

Imagawayaki


Ada yang pernah mencoba imagawayaki? Imagawayaki itu adalah kue Jepang berisi selai kacang merah. Adonan kue berbentuk cair, dibuat dari campuran terigu, telur, gula, dan air. Imagawayaki dipanggang di atas loyang tembaga yang memiliki lubang-lubang berbentuk bundar. Sewaktu kue hampir matang, selai kacang merah diletakkan di salah satu sisi, lalu kedua belah sisi kue direkatkan sewaktu kue masih berada di atas api. Kue ini memiliki nama berbeda-beda di berbagai daerah di Jepang (Wikipedia)

Nama lain dari imagawayaki itu adalah pancake jepang. Sebenarnya dorayaki pun juga dianggap pancake jepang. Bahkan okonomiyaki juga disebut pancake jepang lo. Tapi ini pancake jepang ala imagawayaki. Pertama kali kenal dengan pancake jepang ini pun pas saya lagi mudik ke jakarta. Ketika saya berjalan di jembatan yang menghubungkan Orion Mangga Dua dan Mangga Dua Mall, ada penjual yang memasang tulisan pancake jepang. Awalnya saya pikir dorayaki, pas dilirik kok beda ya. Akhirnya coba-coba aja beli. Ketika coba-coba ngegogling ternyata dari detik food saya mengetahui bahwa pancake jepang yang saya makan itu ternyata bernama imagawayaki.

Akhirnya saya coba bikin imagawayaki abal-abal pake cetakan lumpur. Aslinya cetakannya terbuat dari kuningan mirip kue lumpur, tapi lebih tinggi. Aslinya pun meggunakan pasta kacang merah. Karena saya lagi malas, untuk isian saya pakein aja dulce de leche dan selai strawberry. Merubah pakem sih sebenarnya karena imagawayaki itu memang identik dengan kacang merah. Ntar kapan-kapan deh saya bikin lagi pake pasta kacang merah.

Resep saya contek dari recipesz. Silakan buka linknya untuk membuat imagawayaki dengan pasta kacang merah.

Bahan:
250 gram tepung terigu
1 butir telur
250 ml susu cair
40 gram gula pasir
1 sdt baking powder

Isian:
Saya gunakan selai strawberry dan dulce de leche.

Cara Membuat:
- Ayak tepung terigu dan baking powder, sisihkan.
- Tambahkan gula ke dalam susu cair, kemudian masukkan telur, aduk hingga tercampur rata.
- Masukkan tepung ke dalam bahan cair, aduk rata dengan whisk, adonan akan sedikit bergerindil.
- Panaskan cetakan, olesi dengan sedikit margarin. Setelah panas tuang adonan ke dalam cetakan setinggi 2/3 bagian, setelah bagian atas terlihat kering, angkat, sisihkan.
- Tuang kembali adonan ke dalam cetakan, tuang 2/3 bagian, ketika bagian atas dalam keadaan masih basah, beri isian, dan langsung ditangkupkan dengan bagian kue yang sudah matang (yang dibuat sebelumnya), tekan sedikit hingga kedua kue menempel. Tunggu hingga matang. Angkat.

Martabak Brownies


Martabak manis itu adalah salah satu kue yang cukup sering saya bikin. Pas lagi laper pengen makan tapi ga mau makan nasi ya bikin martabak manis. Kebayang kan enaknya martabak manis hangat.

Selama ini seringnya bikin martabak bolu. Baru kali ini nyobain martabak brownies. Hmm memang kurang nyoklat sih. Ga seperti brownies pada umumnya yang sangat nyoklat. Tapi cukuplah buat saya.

Saya bikinnya ketipisan ya. Saya pakai loyang martabak diameter 18 cm. Saya tuang 5 sendok sayur ke dalam loyang. Biasanya kalau bikin martabak bolu 4 sendok sayur jadinya udah tinggi sekali. Nah ini rupanya ga terlalu ngembang. Makanya hasilnya rendah.

Resep saya ambil dari Mba Nina Agustina. Satu resep bisa dapat 5 loyang martabak diameter 18 cm.

Bahan:
250 gram tepung terigu protein sedang
1 sdm coklat bubuk
1/2 sdt baking powder
1/2 sdm ragi instan
1/2 sdt soda kue
75 gram margarin
40 gram DCC cincang
2 telur utuh
1 kuning telur
350 ml susu cair
50 gram gula pasir

Cara Membuat:
- Lelehkan margarin, masukkan DCC, aduk hingga coklat larut, sisihkan. Campur dan ayak tepung terigu, coklat bubuk dan baking powder, sisihkan. Campurkan susu cair dan ragi instan, sisihkan.
- Kocok telur dan sebagian gula hingga mengembang dan gula larut. Tambahkan campuran tepung sedikit demi sedikit, bergantian dengan susu. Aduk hingga rata.
- Tuang campuran coklat perlahan-lahan, aduk hingga rata dan diamkan selama kurang lebih 30-50 menit. Tutup adonan dengan serbet bersih.
- Panaskan cetakan martabak, sesaat sebelum dituang, masukkan soda kue, aduk hingga rata.
- Tuang adonan dan ratakan hingga memenuhi samping cetakan. Tunggu hingga berpori, taburi dengan gula pasir. Tutup cetakan, masak hingga matang kemudian angkat.
- Oles permukaan martabak dengan margarin, tabur dengan isian sesuai selera.

Martabak Bolu Mini


Martabak bolu dikenal dengan nama marbol. Beda ya antara martabak bolu dan martabak manis. Menurut pendapat pribadi saya, martabak bolu itu lebih kenyal daripada martabak manis. Martabak manis relatif lebih lembut. Di Pontianak, masyarakatnya belum mengenal martabak bolu. Di pinggir jalan banyak yang jual martabak manis aja. Padahal martabak bolu sama enaknya lo dengan martabak manis. Jadi yuk kita jualan martabak bolu *modus pedagang*.

Bikin martabak bolu mini ini pun gara-gara postingan Mommy Wiwiek Sulistyo di grup LBT. Ouhhh kenangan lama terungkit kembali. Udah lamaaaa sekali kepengen bikin si marbol. Dari marbol lagi "in" sampe redup pun ga kebuat juga sampai akhirnya si marbol pun terlupakan dari hidup saya. Akhirnya tadi pagi si marbol saya buat juga. Karena marbol lebih nikmat dimakan ketika hangat maka sengaja disisain empat buah buat difoto. Itu pun empat buah dari kloter terakhir yang dipanggang. Kloter awal udah keburu dimakan duluan. Mana motonya diburu-buru dan ditungguin pula supaya bisa langsung dimakan. Jadi motonya pun akhirnya mati gaya.

Resep saya contek dari Mba Nina Agustina. Resep ini aslinya dari Martabak Bolu Pandannya Mba Ricke Indriani. Satu resep ini bisa dapat 11 buah marbol mini yang menggunakan cetakan lumpur diameter 8,3 cm. Topping marbol ini bisa apa aja. Saya kasi susu dan keju aja. Tadi saya cari meises kok ga ketemu, lupa naruhnya dimana. Marbol saya ini agak garing kulitnya, jadi ketika diangkat tepinya relatif mudah patah.

Bahan A :
100 gram tepung terigu serbaguna
25 gram gula pasir halus
150 ml santan, rebus dan biarkan hangat (saya gunakan susu cair hangat)
3 sdm susu bubuk
1/2 sdt ragi instan
 Bahan B :
1 butir telur utuh
1 kuning telur
25 ml susu cair
1/2 sdt baking powder
1/4 sdt soda kue
1sdm gula pasir untuk taburan

Topping :
Meises, keju parut atau sesuai selera

Cara Membuat :
- Campur tepung terigu, susu bubuk dan gula pasir halus, aduk rata.
- Tuang santan hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk memakai whisker hingga adonan licin dan lembut. Masukkan ragi instan, aduk rata.
- Diamkan selama kurang lebih 30-60 menit.
- Kocok lepas telur, masukkan ke dalam adonan.aduk rata.
- Masukkan baking powder, aduk rata. Diamkan selama 15 menit.
- Panaskan loyang martabak, tuang soda kue dan aduk rata. Segera tuang ke dalam cetakan. Tekan perlahan bagian tengahnya dengan punggung sendok sayur agar tepiannya berkulit.
- Kecilkan api, tunggu hingga muncul gelembung-gelembung atau lubang-lubang yang cukup banyak. Tutup loyang.
- Setelah permukaannya agak kering, taburi dengan gula pasir. Tutup lagi dan masak sebentar hingga gula agak mencair. Angkat.
- Panas-panas olesi dengan margarin dan beri topping sesuai selera.

Bolu Kemojo

 
Bolu kemojo ini sudah lama sekali masuk list sebagai daftar kue yang mau dibikin. Sekitar 2 tahunan kue ini sudah nangkring di dalam list. Akhirnya baru tadi pagi kesampaian mau bikin. Di resepnya menggunakan metode oven. Tapi yang saya bikin, saya panggang langsung di atas kompor pake cetakan lumpur. Saya ga tahu apa itu keluar dari pakemnya kue kemojo atau tidak. Bingka saja di jaman dahulu dipanggang di atas kompor. Makanya saya juga menduga bahwa mungkin dulunya bolu kemojo juga dipanggang di atas kompor, baru sekarang-sekarang aja setelah ada oven bolu kemojonya dipanggang di dalam oven. Bolu kemojo pun aslinya menggunakan cetakan berbentuk bunga kemojo (cetakan bunga dengan kelopak delapan). Karena saya ga punya cetakannya, jadinya saya gunakan cetakan lumpur saja. Rasanya.. hmm seperti kue lumpur pandan dan bingka pandan..

Resep saya ambil dari Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Riau. Resep di bawah ini untuk satu resep. Saya bikin ½ resep bisa dapat 22 buah kue diameter 6 cm. Saya menggunakan air pandan (air + pandan diblender kemudian disaring dan ambil airnya). Karena pandan yang digunakan ga banyak (hanya 2 lembar), makanya warna bolu kemojonya ijo muda banget. Terus pas difoto, kok warna di foto malah jadi kuning. Padahal harusnya hijau muda lo. Apa karena difoto pas mendung kali ya jadi warnanya berubah?
Bahan:
6 butir telur ayam 
3 gelas (750 ml) santan ditambah air pandan
250 gram margarin
300 gram tepung segitiga
250 gram gula pasir
1/2 sdt garam
Vanili secukupnya

Cara Membuat:
- Telur dan gula diaduk.
- Masukan santan, tepung, dan margarin cair, aduk sampai rata. (supaya halus dan tidak menggerindil, saya blender adonan hingga tercampur rata)
- Panaskan cetakan.
- Tuangkan adonan kedalam cetakan dan dioven selama 45 menit pada suhu 175 derajat Celcius, dengan panas yang merata di atas dan bawah. (saya panggang langsung menggunakan cetakan lumpur di atas kompor)

Bingka Pisang


Gara-gara panen pisang (lagi lagi dan lagi), akhirnya mesti banyak cari varian resep berbahan pisang. Jadi inget Ummu Fatima yang pernah posting bingka pisang. Akhirnya kali ini pisangnya saya bikin bingka pisang. Harusnya pisang yang dibuat cake itu adalah pisang yang beraroma harum seperti pisang ambon, pisang berangan, pisang raja, dll. Karena saya panennya pisang kepok, maka pisang kepok inilah yang kali ini saya gunakan. Memang harumnya kurang terasa, teksturnya pun cenderung lebih kenyal.

Setahu saya yang namanya bingka itu dulunya dipanggang di atas kompor. Tetapi dengan semakin majunya teknologi perovenan, maka membuat bingka pun sekarang bisa dioven. Tetapi kelemahan bingka yang dioven adalah waktu pemanggangannya relative lebih lama. Karena Ummu pernah coba yang dioven dan dikukus. Jadi saya cobain yang dipanggang menggunakan cetakan kue lumpur langsung di atas kompor. Jika menggunakan cetakan lumpur dan langsung di atas kompor, waktu pemanggangan relatif lebih cepat. Jika menggunakan cetakan khusus bingka yang bunga, karena tebal, maka waktu pemanggangan juga akan tetap lama.

Resep saya contek dari Ummu Fatima, cara membuatnya saya modifikasi. Ummu ambil dari Damai Qalbu. 1 resep bisa menghasilkan 23 kue lumpur diameter 6 cm.

Bahan:
400 gr pisang kupas (saya gunakan pisang kapok)
1 butir telur
100 gr tepung terigu
100 gr tepung beras
100 gr gula pasir
100 ml santan kental instan
50 ml minyak sayur

Cara Membuat:
- Panaskan cetakan kue lumpur dengan api yang sangat kecil. Oles dengan minyak atau margarine.
- Campur tepung terigu dan tepung beras, ayak.
- Blender pisang bersama gula dan santan hingga tercampur rata dan lembut.
- Masukkan minyak, blender lagi hingga rata.
- Pindahkan adonan pisang di wadah/baskom.
- Masukkan telur, kocok adonan dengan whisk atau mikser kecepatan rendah, asal rata.
- Masukkan tepung sedikit demi sedikit, kocok kembali hingga rata. Matikan mikser.
- Tes sedikit adonan ke cetakan kue lumpur, apabila sudah mendesis berarti cetakan sudah bisa digunakan.
- Tuang adonan di cetakan kue lumpur. Tutup cetakannya dan tunggu hingga permukaan kue benar-benar kering dan ketika disentuh dengan jari sudah tidak lengket lagi. Angkat. Dinginkan.

Cara Isi


Mirip kue lumpur kan? Betul sekali... Kue ini memang dibuat menggunakan cetakan kue lumpur. Lembutnya juga sama dengan kue lumpur. Ini versi asinnya kue lumpur. Namanya kue cara isi. Saya baru tahu ada kue yang namanya cara isi dari buku Yasaboga. Ketika saya coba googling, memang tidak banyak referensi mengenai kue ini. Sepertinya kue ini kurang dikenal.

Di resep asli menggunakan ayam mentah, tapi saya menggunakan ayam yang stok di freezer yang sudah saya ungkep. Sepertinya memang lebih oke jika menggunakan ayam yang sudah diungkep karena ayamnya akan bercita rasa lebih berbumbu. Kata Ayah Kirana, adonan tepungnya masih kurang asin. Padahal takaran garamnya sudah saya tambah.

Di resep menggunakan metode oven, saya gunakan metode panggang langsung di atas api. Cetakan dipanaskan terlebih dahulu dengan api yang sangat kecil. Olesi margarin, kemudian tes dengan menuangkan sedikit adonan. Apabila cetakan sudah mendesis ketika adonan tes dimasukan, berarti cetakan lumpur sudah siap untuk digunakan. Saran dari saya, masukan 1/3 adonan ke cetakan, tambah tumisan isi, baru tutup lagi dengan adonan. Jika dimasukan 1/2 adonan maka adonan akan naik ke atas hingga memenuhi hampir seluruh cetakan, jadi untuk memberi isi dan adonan tambahan agak sulit dilakukan.

Resep diambil dari bukunya Yasaboga - Kue Kue Tradisional (Edisi Baru). Satu resep ini bisa dapet 20 buah kue lumpur diameter 6 cm.

Bahan Isi:
150 gram daging ayam cincang (saya gunakan daging ayam yang sudah diungkep)
1 sdm bawang merah goreng, remas-remas
2 batang daun bawang, iris tipis
2 buah cabai merah tanpa biji, iris tipis
1 batang seledri, iris tipis
1/2 sdt merica bubuk
1/2 sdt garam (saya gunakan kaldu bubuk)

Bahan Adonan:
3 butir telur
125 gram tepung terigu
500 ml santan dari 1 butir kelapa (karena saya beli santan kental bukan kemasan yang ada di pasar, jadi santan saya didihkan terlebih dahulu)
2 buah bawang putih, haluskan (saya cincang)
1/2 sdt merica bubuk
1/2 sdt garam (saya gunakan 1 sdt kaldu bubuk)

Cara Membuat Isi:
Tumis daging ayam dengan 2 sdm minyak goreng sampai matang. Masukkan semua bahan lain, aduk-aduk sampai kering, angkat, dinginkan.

Cara Membuat Adonan:
Kocok telur sampai mengembang dan kental. Masukkan bawang putih, tepung, dan santan sedikit demi sedikit secara bergantian, beri merica dan garam, aduk rata.

Penyelesaian:
Pasang oven 180 C. Olesi cetakan kue lumpur / carabikang / yang lainnya dengan margarin / minyak, isi setengahnya dengan adonan, beri 1 sdm isi, tutup dengan adonan. Panggang 10-15 menit sampai matang. Keluarkan selagi masih panas, isi lubang cetakan kembali, lakukan dengan cara yang sama.

Catatan:
Bila cara isi dimatangkan di atas bara api teksturnya lebih lembut daripada dimatangkan dalam oven.

Panekuk New York


Mengapa panekuk ini dinamakan panekuk new york? Apakah panekuk ini berasal dari New York? Saya kurang paham juga asal usul dari panekuk ini. Yang pasti jika di telusuri lewat google, tidak ditemukan tentang panekuk new york.

Resep saya dapat dari Bookletnya Teflon Makcook. Satu resep ini bisa dapat 6 buah panekuk diameter 16 cm. Di resep asli menggunakan butter yang dikocok sebagai hiasan dan sirup maple. Karena saya orang Indonesia, jadi saya makannya dengan menambahkan susu kental manis dan keju sebagai hiasannya.

Di foto memang dibiarkan tanpa topping karena ketika panekuknya selesai dibuat, Kirana malah tidur siang. Alhasil panekuknya mengganggur dan akan dihangatkan kembali ketika kirana bangun, baru dikasi topping.

Bahan:
1,5 cangkir tepung terigu self-rising
2 sdm gula castor
1 sdt baking powder
60 gram mentega cair
2 butir telur
1 cangkir susu
1/2 cangkir sirup maple (saya tidak pake)
100 gram mentega (tambahan) (saya tidak pake)
Garam

Cara Membuat:
- Ayak terigu, baking powder, gula dan garam. Taruh dalam mangkuk dan buat lubang di tengahnya.
- Campur telur, susu, dan mentega. Tuang ke atas tepung.
- Kocok dengan pengocok kawat sampai lembut.
- Tutup dengan plastik selama 20 menit.
- Dadar 1/4 cangkir adonan pada crepes pan, hingga berwarna keemasan (kedua sisinya).
- Sajikan panekuk hangat atau dingin dengan mentega tambahan yang dikocok.

Kue Pisang


Kue pisang ini juga dikenal dengan nama roti pisang. Kue ini merupakan salah satu jajanan banjarmasin. Ibu saya yang orang asli orang banjarmasin sering mengatakan ini martabak pisang. Dulu waktu puasa ketika saya hamil kirana, di jalan apel ada yang menjual kue ini tapi cuma beberapa hari aja dan langsung tutup karena kurang laku. Jadi selama itu saya ga pernah makan lagi. Saya kira yang dulu saya makan itu adalah lumpur pisang, sampe akhirnya waktu ngobrol di whattsapp dengan mba dida ternyata menemukan namanya bukan lumpur pisang melainkan kue pisang yang dicetak menggunakan cetakan lumpur.

Berhubung di rumah saya lagi panen pisang nipah, maka saya uji coba dengan membuat kue pisang. Kurang oke sepertinya menggunakan pisang nipah karena kurang harum. Jadi sebaiknya pilih pisang yang baunya sangat harum.

Bahan :
250 gram terigu protein sedang
125 - 150 gram gula, menyesuaikan kemanisan pisang
2 gelas (450 ml) santan, rebus dengan 1/4 sdt garam dan 2 lembar daun pandan, dinginkan (saya gunakan 2 bungkus santan bubuk @ 50 gram ditambah air hangat dan tidak saya rebus lagi)
1/2 sdt vanili bubuk
50 gram susu bubuk fullcream
2 butir telur, kocok lepas
75 gram margarin lelehkan
5 - 7 buah pisang, belah memanjang menjadi 4, lalu potong-potong kecil
Bila suka bisa memakai kismis yg dipotong-potong kecil

Cara Membuat :
- Ayak tepung dan susu, lalu campur dengan gula pasir dan vanili, aduk rata, sisihkan.
- Campur santan, telur dan margarin leleh sampai rata, tuang kedalam campuran tepung, aduk rata sampai halus memakai whisk atau mixer kecepatan rendah.
- Masukkan potongan pisang, aduk rata, diamkan 30 menit.
- Panaskan cetakan kue lumpur, beri sedikit margarin, lalu tuang adonan 3/4 tinggi catakan, lalu tutup.
- Bila sudah 3/4 matang beri kismis, tutup lagi sampai matang.
- Kalau sudah matang lalu balik kue, sehingga bagian atas juga ikut kering atau ada efek kecoklatan.
- Angkat, lalu sajikan.