Tampilkan postingan dengan label Kue Tradisional Kukus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kue Tradisional Kukus. Tampilkan semua postingan

Gegicak


Gegicak atau disebut juga dengan kikicak merupakan salah satu kue khas dari Kalimantan Selatan. Gegicak ini mudah sekali dibuatnya. Hmm kalau dilihat mirip cenil ya. Cuma beda bentuk dan beda cara menyajikannya. Dari hasil googling, gegicak ini kebanyakan kelapanya yang disiram saus gula merah. Baru digaul dengan gegicak. Kalau ngikutin foto, itu gayanya saya aja dimana saus gula merah ditaruh di tengah, biar kelihatan ada lubangnya. Soal bentuk, memang bentuk gegicak itu seperti ini. Bulat pipih dengan lubang di tengahnya. Sebenarnya saya penasaran, lubang di tengah itu ada fungsinya atau hanya sekedar pemanis bentuk saja.

Di beberapa resep kue-kue tradisional Indoensia ada menggunakan air kapur sirih. Sebenarnya fungsi air kapur sirih itu untuk membuat tekstur kue menjadi lebih padat dan kaku. Oh ya, yang digunakan itu air rendaman ya. Bukan air yang ada kapur sirihnya. Saya beli kapur sirih di Pasar Sungai Jawi, Pontianak. Beli di Ibu yang menjual mangir, pinang, tembakau, kemenyan, dll. Kiosnya ada di agak belakang. Satu kantong kecil cuma seribu. Itu bisa dipake tahunan. Saya sengaja keringkan biar awet makenya. Kalau mau dipake, pecahkan kapur sirih yang membatu, ambil secukupnya, rendam di air hingga kapur sirihnya lunak baru ambil air rendamannya. Kalau ga punya kapur sirih gimana? Ya ga dipake juga ga papa.

Ga semua kue-kue Indonesia masuk ke kategori jajanan pasar. Buat saya defenisi jajanan pasar itu adalah kue-kue yang mudah ditemukan dan banyak dijual di pasar-pasar tradisional. Makanya disebut jajanan pasar. Apakah gegicak ini juga masuk ke kategori jajanan pasar?

Resep saya ambil dari bukunya Yasaboga - Kue-Kue Indonesia

Bahan:
200 gram tepung ketan putih
1 sdt garam
175 cc air (saya cuma pakai sekitar 150 cc)
50 cc air daun suji dan 5 tetes pewarna hijau (saya gunakan pewarna hijau)
1 sdm air kapur sirih
Minyak goreng, untuk olesan

Bahan untuk taburan: (saya cuma gunakan setengah takaran taburan untuk 1 resep gegicak)
1/2 butir kelapa agak muda, kupas, parut, kukus (untuk setengah resep taburan saya gunakan 100 gram kelapa putih yang sudah diparut)
1/4 sdt garam

Saus Gula Merah: (saya cuma gunakan setengah takaran saus gula merah untuk 1 resep gegicak)
200 gram gula merah, iris halus
100 cc air
1 lembar daun pandan, sobek-sobek, buat simpul

Cara Membuat:
- Campur tepung ketan, garam, dan air kapur sirih. Tuangi air sedikit demi sedikit sambil diuleni sampai menjadi adonan yang kalis dan bisa dibentuk. Bentuk bulatan sebesar kelereng. (saya timbang @20 gram)
- Susun bulatan adonan di dalam loyang yang dialasi daun pisang yang sudah diolesi minyak. Jangan terlalu rapat. Tekan tengah bulatan dengan jari hingga berlubang.
- Kukus kurleb 10 menit sampai matang, dandang jangan ditutup terlalu rapat. Angkat. Hidangkan dengan ditaburi kelapa parut dan saus gula merah.
- Saus gula merah: didihkan semua bahan hingga gula larut. Saring.

Lapis Kacang Hijau


Entah berapa lama saya ga pernah bikin kue yang lapis melapis seperti ini. Yang pasti lamaaa sekali... Bukannya saya ga doyan makan kue lapis, tapi proses pengerjaan yang dibikin lapis per lapis cukup menyita waktu. Sampailah di suatu hari saya menemukan bukunya tim dapur demedia tentang aneka lapis kukus. Dannn saya kepincut dengan salah satu resep di dalam buku yaitu lapis kacang hijau.

Saya pecinta es kacang hijau. Tapi saya ga suka gandasturi karena isian di dalamnya ada kacang hijau. Kalau kue ku atau onde-onde yang menggunakan kacang hijau kupas kulit, saya suka. Dan saya rupanya suka dengan lapis kacang hijau ini. Rasanya seperti makan es sari kacang hijau. Sedapp..

Manisnya pas, saya bikin 1/2 resep aja udah banyak hasilnya. Untuk kami bertiga, sudah lebih dari cukup. Masih bisa dibagi-bagi pula. Untuk 1/2 resep saya gunakan loyang 16x16x6 cm. Tiap lapisan saya tuang 200 ml. Nahh yang paling akhir itu adonan putihnya cuma tinggal 150 ml. Kalau adonan hijau pas takarannya. Cantik kan???

Oh ya, kue dikeluarkan dari loyang ketika kue dalam keadaan dingin ya. Jangan panas-panas dikeluarkan karena kue akan patah dan berubah bentuknya. Jika dikeluarkan dalam keadaan dingin, maka kue akan mulus. Cuma saya masih belum pandai memotongnya. Masih ga mulus. Padahal sudah pakai pisau tajam yang dipanaskan ke api. Tapi tetap ga bisa mulus.

Resep saya ambil dari bukunya Tim Dapur Demedia - Aneka Kue Talam dan Lapis Kukus. Resep di bawah ini untuk 1 resep ya, jika mau bikin 1/2 resep silakan dikonversi sendiri.

Bahan I:
600 ml santan dari 3/4 butir kelapa (untuk 1/2 resep saya menggunakan 200 ml santan instant + 100 ml air hangat)
250 gram tepung terigu
250 gram gula pasir
1 sdm tepung maizena
1 sdm tepung beras
1/2 sdt garam

Bahan II:
250 gram kacang hijau, rebus sampai matang
650 ml santan dari 3/4 butir kelapa (untuk 1/2 resep saya menggunakan 200 ml santan instant + 150 ml air hangat)
50 gram gula pasir
100 ml air daun suji (daun suji dipotong kecil-kecil, tambah air, blender, saring, karena warnanya ga terlalu mau keluar, saya tambahkan 3 tetes pewarna hijau)
250 gram tepung terigu
1 sdm tepung maizena
1 sdm tepung beras

Cara Membuat:
- Campur santan, tepung terigu, gula pasir, tepung maizena, tepung beras, dan garam. Aduk sampai menjadi adonan yang licin.
- Tiriskan kacang hijau, kemudian blender bersama santan, gula pasir, dan air daun suji. Tuangkan ke dalam campuran tepung terigu, tepung maizena, dan tepung beras. Aduk sampai rata.
- Tuang 200 ml adonan kacang hijau ke dalam loyang yang sudah dioles minyak. Kukus selama 10 menit. Tuang 250 ml adonan putih ke atasnya, kukus lagi selama 10 menit. Lakukan berulang untuk sisa adonan. Kukus lapis kacang hijau selama 20 menit. Angkat. (saya untuk adonan putih dan hijau sama-sama 200 ml, dimulai dengan hijau dan berakhir dengan hijau juga, di lapisan terakhir, kukus selama 20 menit)

Mochi


Pengen ikutan kekinian bikin sesuatu yang green tea, akhirnya percobaan pertama dari bubuk green tea buatan korea yang saya beli di Food Hall dimulai dengan membuat mochi green tea. Menurut cerita beberapa blogger, bubuk green tea itu kalau dibuat cake yang dipanggang warnanya akan burem hijaunya. Nah.. karena mochi ga dipanggang, jadinya saya uji coba.

Ternyata cakep banget mochi dipakein green tea. Takarannya saya pakai ilmu kira-kira yaitu 1 sdm bubuk green tea untuk kulit dan 1 sdm bubuk green tea untuk isian. Sotoy ya saya. Untuk kulit masih oke, untuk isian kayaknya terlalu banyak green teanya deh, mungkin akan lebih baik cuma pakai 1/2 sdm aja. Isiannya dominan rasa green tea yang agak cenderung pahit. Karena saya ga suka kacang tanah, jadi dalemnya mochi saya ganti dengan kacang hijau buka kulit. Nah.. sepertinya itu yang bikin rasa green teanya dominan banget.

Menurut selentingan, kalau mau cakenya berwarna green tea yang cantik, gunakanlah pasta green tea, bukan bubuk green tea. Termasuk penjual kue yang lagi booming dengan semua yang dijual green tea itu, kebanyakan ya pakai pasta green tea, bukan bubuk green tea. Ya iyalah secara harga bubuk green tea yang gradenya bagus mahal sekali. Mo dijual berapa kan sajiannya kalau dipakein bubuk green tea asli. Tapi ya namanya juga pasta, jadi ya cuma sekedar rasa pasta doang. Penampilan doang yang green tea, tapi rasa ya jauh dari green tea.

Resep saya ambil dari bukunya Ny. Liem - Kue Basah Pilihan

Bahan I:
1 bungkus (500 gram) tepung mochi siap pakai atau 200 gram tepung ketan + 20 gram tepung beras (saya pakai tepung ketan dan tepung beras)
130 ml air
60 gram mentega putih / mentega kuning, cairkan
1/2 sdt esens pisang (saya pakai 1 sdm bubuk green tea)
50 gram gula pasir

Bahan II: (campur jadi satu)
200 gram kacang tanah panggang, haluskan (saya pakai kacang hijau buka kulit, rendam sebentar, kukus hingga matang)
100 gram gula pasir
1/2 sdt vanila bubuk (saya pakai 1 sdm bubuk green tea - kebanyakan ^_^)
1/4 sdt garam

Bahan III:
Tepung maizena secukupnya

Cara Membuat:
- Bahan I: campur tepung mochi dengan gula pasir dan air hingga menjadi satu. Kocok dengan mikser kecepatan sedang hingga tercampur rata.
- Tuang mentega cair, aduk. Tambahkan esens pisang.
- Kukus ke dalam panci pengukus selama 10 menit hingga matang. Angkat, taburi dengan bahan III sambil diaduk hingga rata dan tidak lengket.
- Giling adonan, potong dan bentuk sesuai selera, isi dengan bahan II.

Lalampa

Lalampa itu mirip lemper. Yang membedakannya cuma di isian dalamnya. Kalau lemper umumnya diisi abon sapi atau abon ayam. Lalampa ini diisi tumisan ikan tongkol. Di beberapa resep yang saya baca memang harus pakai tongkol, karena lalampa identik dengan tongkol. Kalau diganti ikan lain, namanya sudah bukan lalampa lagi kali ya.

Karena tongkol termasuk ikan yang mudah dan murah didapatkan di Pontianak, jadi saya coba-coba aja bikin lalampa. Alhamdulillah.... laris manis. Cuma ada yang kurang. Di resep menggunakan daun selasih, tapi karena saya ga pernah tahu dan ga pernah nemu daun selasih, jadinya saya skip.

Fotonya ga banget ya. Cuman ada sebiji pulak. Dalamnya lalampa ga keliatan, foto lalampa yang dalemnya keliatan blur semua. Jadinya ga saya posting disini dan cuma ada lalampa yang tampak dari luar. Harap dimaklumi.

Resep diambil dari bukunya Julie Sutarjana Nyonya Rumah - 225 Resep Hidangan Pilihan Favorit Sepanjang Masa

Bahan:
1/2 kg ketan putih
300 ml santan dari 1 butir kelapa
Garam secukupnya
Daun pisang secukupnya untuk membungkus
Lidi secukupnya untuk menyemat

Isi:
250 gram ikan tongkol
10 helai daun selasih (saya ga pake)
10 helai daun kemangi
1 sdm irisan kucai
1 lembar daun pandan, simpulkan
1 batang serai, memarkan
5 buah cabai merah, iris halus
3 buah tomat, potong-potong
3 sdm minyak untuk menumis
1/2 gelas santan

Bumbu Halus:
1 ruas jahe
2 siung bawang putih
Garam secukupnya

Cara Membuat:
- Cuci ketan hingga bersih lalu rendam selama 1 jam. Tiriskan lalu kukus hingga 1/2 matang, angkat.
- Beri santan dan garam, aduk rata. Diamkan hingga santannya meresap.
- Kukus kembali ketan hingga matang. Angkat dan sisihkan.
- Isi: bersihkan ikan tongkol lalu kukus hingga matang. Angkat dan suwir-suwir.
- Panaskan minyak, tumis bumbu yang dihaluskan bersama daun pandan, serai, cabai merah, dan tomat hingga harum. Masukkan ikan tongkol suwir, tuangkan santan, aduk. Masak hingga matang dan bumbu meresap.
- Masukkan daun selasih, daun kemangi, dan kucai, aduk dan masak sebentar. Angkat.
- Ambil 2 sdm ketan, beri adonan isi, lalu bentuk bulat memanjang. Bungkus dengan daun pisang lalu semat kedua ujungnya dengan lidi. Lakukan hal yang sama hingga adonan habis. (saya gunakan alat pencetak lemper biar semua ukuran sama)
- Panggang sambil dibolak balik hingga berwarna kecoklatan.
- Hidangkan selagi hangat.

Carang Gesing


Ini pertama kali saya bikin carang gesing, telat ya... Kemaren-kemaren saya entah kemana ya baru bikin carang gesing ini. Bikin carang gesing ini pun karena saya punya stok pisang berangan yang cukup banyak. Mau dibikin cake lagi ga selera bikin cake, mau dibikin yang lain pun lagi malas, akhirnya ketika baca-baca buku resepnya NCC, pilihan jatuh ke carang gesing.

Dulu almarhum ibu saya sering bikin pisang dikukus seperti ini juga. Ibu bilangnya pisang srikaya. Dulu saya ga doyan karena ibu seringnya pakai pisang gepok, kurang harum kalau pakai pisang gepok. Kalau pakai pisang yang berbau harum seperti ambon atau berangan, mantep harumnya.

Oh ya.. carang gesing saya setelah matang kok kurang set ya antara santan telur dan pisangnya. Ketika dipotong malah ga bisa, terpisah-pisah gitu. Lihat aja penampakan foto di bawah, seperti itulah carang gesing saya. Atau apakah carang gesing memang seperti itu? Ataukah karena pisangnya saya susun di dasar wadah kaca baru saya tuang adonan telur dan santan makanya jadi seperti itu? Di resep asli ga pakai kismis, supaya carang gesingnya cantik, saya tambahi kismis.

Resep saya ambil dari bukunya Ibu Fatmah Bahalwan - 60 Resep Desert & Minuman Anti Gagal

Bahan :
500 gram pisang ambon masak (saya gunakan pisang berangan)
200 ml santan siap pakai
100 ml air (untuk menambah cairan)
75 gram gula pasir (saya pakai 50 gram saja)
1 butir telur
Daun pandan secukupnya

Cara Membuat:
- Siapkan wadah keramik atau kaca tahan panas.
- Campur santan, air, dan gula pasir, aduk rata. Masukkan telur, aduk sebentar agar pecah kuningnya, tidak usah terlalu rata. Tuang ke dalam wadah keramik. Masukkan daun pandan yang sudah dipotong-potong
- Tambahkan potong pisang tipis-tipis (setebal maksimum 5 mm), susun dalam wadah. Usahakan potongan pisang agar tenggelam dalam cairan
- Kukus hingga matang.
- Angkat dan tunggu agak dingin, bisa dinikmati hangat atau dimasukkan kulkas terlebih dahulu.

Nagos


Nagos itu mirip dengan naga sari. Sama-sama menggunakan tepung beras, santan, dan pisang. Bedanya, pisang di nagos dilumatkan, kemudian nagos dikukus tidak menggunakan daun pisang tetapi langsung di loyang, dan dimakan dengan tambahan saus gula merah.

Saya kenal nagos di NCC Jajanan Tradisional Indonesia. Nagos memang belum seterkenal naga sari. Tetapi tambahan saus gula merah membuat nagos berbeda. Memang tidak ada harum daun pisang khas naga sari. Tetapi beneran enak lo.

Resep saya ambil dari Mba Yovina yang beliau posting di NCC Jajanan Tradisional Indonesia. Resep di bawah ini untuk 1 resep. Saya membuat 1/2 resep dan saya cetak menggunakan piring kecil alumunium yang mirip kobokan bisa dapat 3 loyang. Di resep tidak ada instruksi mengoleskan minyak / margarin ke loyang. Saya coba keduanya, loyang ada yang diolesi margarin dan tidak, ternyata yang tidak diolesi margarin agak sulit untuk melepaskan, sedangkan loyang yang saya olesi margarin sangat mudah untuk dilepaskan.


Bahan:
200 gram tepung beras
2 sendok makan tepung sagu
180 gram gula pasir
1/2 sendok teh garam
2 lembar daun pandan, sobek-sobek, buat simpul
750 ml santan sedang (untuk 1/2 resep, saya gunakan 200 ml santan kental dicairkan dengan air hingga menjadi 325 ml)
6 buah pisang yang matang, haluskan (untuk 1/2 resep, saya gunakan 6 buah pisang kepok dihaluskan menggunakan garpu)
Daun pisang untuk alas loyang
1 buah loyang bulat / kotak (saya gunakan loyang alumunium bulat kecil seukuran kobokan, saya olesi dengan margarin)

Cara Membuat :
- Cairkan tepung beras dengan sebagian santan, sisihkan.
- Didihkan sisa santan, daun pandan, dan garam. Masukkan cairan tepung beras dan gula, aduk sampai larut dan adonan kental.
- Angkat dari api, taburkan tepung sagu dan pisang halus sambil diaduk rata. Tuang dalam loyang yang sudah dialasi daun pisang, ratakan.
- Kukus sampai matang kurang lebih 30 menit. Angkat, dinginkan, potong-potong, sajikan dengan saus gula merah.


Pepes Pisang


Lagi lagi dan lagi postingan tentang pisang. Maaf ya.. Karena di rumah panen pisangnya berturut-turut makanya stok pisang ga habis-habis.

Kali ini saya coba bikin pepes pisang. Menarik sekali ya, baru kali ini dengar ada yang namanya pepes pisang. Kami di pontianak, tidak mengenal pepes pisang. Ternyata setelah saya googling, ada juga beberapa foodblogger yang posting resep pepes pisang, walau ga banyak. Resep tahu tentang pepes pisang ini dari Mba Kiki Marsenda ketika beliau setor untuk NCC JTIW. Hmm udah lama juga pepes pisangnya jadi list. Alhmadulillah bisa dicobain juga.

Resep ini saya ambil dari Mba Kiki Marsenda. Resep di bawah ini untuk satu resep, karena stok beras ketan yang saya punya tinggal sedikit, akhirnya saya bikin 1/4 resep dan hasilnya 6 gulungan pepes. Setelah matang dan saya cicipi, rasanya mirip wajik, tapi ada rasa pisangnya dan juga harum dari daun pisang.


Bahan:
1/2 liter beras ketan putih (sebenarnya 1 liter beras itu 0,89 kg, karena sulit untuk menghitungnya jadi saya anggap 1/2 liter itu 500 gram)
1 butir kelapa, dibersihin kulit diparut (saya gunakan kelapa yang sudah diparut, karena ga tahu 1 butir itu seberapa banyak, jadi sekiranya saja saya masukin kelapanya)
250 gram gula merah / gula pasir (saya gunakan gula merah dan gula pasir dengan perbandingan 1:1, gula merahnya saya masak sebentar dengan sedikit air)
1 sisir pisang kepok yg masak, haluskan dengan menggunakan garpu
Daun pisang secukupnya

Cara Membuat:
- Cuci bersih beras ketan lalu tiriskan.
- Campur jadi satu beras ketan, kelapa, gula, dan pisang, aduk rata.
- Ambil sesedok atau lebih, bentuk diatas daun, lipat dan ikat di kedua ujungnya,.
- Rebus di air mendidh kurang lebih 45 menit. Harus dipastikan semua pepes terendam. Angkat. Dinginkan. Sajikan

Talam Merah


Bikin talam merah ini udah lama, mungkin sudah sebulan yang lalu, tapi baru sekarang diuplod. Saya lupa kalau punya foto ini. Talam merah ini pesanan tetangga saya yang tionghoa untuk sembayang. Karena untuk sembahyang dan untuk persembahan, maka warnanya mesti merah. Keren ya warna merahnya, silau sekali ngeliatnya.

Resepnya masih sama dengan Talam Pandan Kelapa Parut yang dulu pernah saya bikin juga. Resep saya ambil dari buku Dapur Lestari 101 Kue Nusantara. Saya buat 1/2 resep bisa dapat 22 buah kue dengan menggunakan cetakan talam ukuran kecil. Resep di bawah ini untuk satu resep ya.

Saya juga modifikasi cara membuatnya. Kalau yang talam pandan, santan dimasak, masukan larutan tepung-tepungan, aduk, dan masak kembali hingga matang. Untuk yang kali ini santan saya masak, masukan larutan tepung, aduk rata saja. Jadi adonan tidak saya masak lagi, tetapi langsung dituang ke dalam cetakan talam.


Bahan:
150 gram tepung beras
100 gram tepung sagu
2 sdt air kapur sirih
600 ml santan dari 1 butir kelapa (saya gunakan santan instant + air)
1/2 sdt garam
225 gr gula pasir
Pewarna merah secukupnya
1/4 butir kelapa setengah tua, parut halus memanjang, kukus 15 menit (saya gunakan kelapa yang sudah diparut yang bisa dibeli di pasar tradisional)

Cara Membuat:
- Panaskan cetakan kue talam dalam dandang kukusan. Tutup dandang dikasi serbet bersih.
- Campurkan tepung beras, tepung sagu, air kapur sirih dan 300 ml santan. Aduk rata.
- Masak 300 ml santan sisanya. Tambahkan garam dan gula pasir. Masak dengan api sedang hingga mendidih. Matikan api.
- Masukkan larutan tepung secara bertahap sambil terus diaduk. Tambahkan pewarna merah. Aduk rata.
- Tuang adonan ke dalam cetakan kue talam hingga hampir penuh.
- Kukus kue talam selama 25 menit atau hingga matang.
- Keluarkan kue dari cetakan dan sajikan dengan taburan kelapa parut.

Kuih Kosu


Kuih kosu disebut juga dengan kuih lompang. Kuih kosu ini adalah kue tradisional dari Malaysia. Saya pun mengenal kuih kosu beberapa waktu yang lalu dari salah seorang teman asal Malaysia yang beliau posting di facebooknya. Akhirnya setelah lama penasaran dengan bentuk kuih kosu yang bisa berlubang di tengahnya, saya membuat kuih kosu juga. Dan alhamdulilah kuih kosu yang saya buat bisa berlubang juga. Rasa kuih kosu itu sekilas mirip dengan kue talamnya indonesia tapi tanpa santan.

Resep saya contek dari Mama Kitchen - Makcik Manggis. Resep ini saya terjemahkan dari bahasa melayu ke dalam bahasa indonesia. Di resep aslinya menggunakan takaran cawan (gelas), saya konversi menjadi gram dan ml, kemudian saya kecilkan lagi menjadi 1/3 resep. Resep di bawah ini adalah 1/3nya dari resep asli. Total cairan sebelum dituang sekitar 450 ml. Saya bagi menjadi tiga bagian, masing-masing warna 150 ml, tiap warna bisa menghasilkan 7 buah cetakan talam ukuran kecil. Jadi totalnya 21 buah.

Saya kurang tahu, aslinya kuih kosu itu harusnya berwarna apa. Katanya sih bisa berwarna apa saja. Tetapi dari yang saya googling, banyak yang menggunakan warna merah, kuning, dan warna asli (putih). Jadi saya juga membuat menggunakan pewarna merah dan kuning. Buat saya, yang agak sulit yaitu ketika melepaskan kuih kosu dari cetakan talamnya. Saya gunakan pisau tipis untuk melepaskan bagian tepinya, tapi karena saya belum pengalaman, makanya kuih kosunya tidak mulus di bagian tepi.


Bahan:
120 gram tepung beras
23 gram tepung kanji
200 ml air
75 gram gula pasir
150 ml air
1 sdt air kapur
1 sdt esen ros (saya gunakan vanila susu)
pewarna merah dan kuning secukupnya
1/2 butir kelapa parut, kukus, beri sedikit garam, aduk rata

Cara Membuat:
- Panaskan dandang, masukan cetakan talam ke dalam dandang, beri serbet pada tutup dandang, biarkan hingga beruap banyak.
- Aduk rata tepung beras dan tepung kanji, tambahkan 200 ml air, aduk rata dan pastikan tidak ada yang menggumpal. Masukkan air kapur. Aduk rata.
- Masak gula pasir dengan 150 ml air hingga gula larut dan mendidih.
- Tuangkan air gula ke dalam campuran tepung, aduk rata. Masukkan esen ros (vanila)
- Bagi adonan menjadi 3 bagian. Satu bagian beri pewarna merah, satu lagi warna kuning dan biarkan satu bagian lagi dengan warna asal (putih).
- Tuangkan ke dalam cetakan talam yang sudah dipanaskan hingga penuh. Kukus 25-30 menit hingga matang. Biarkan kue dalam keadaan dingin, baru keluarkan dari cetakannya.
- Hidangkan dengan kelapa parut.

Catatan:
Untuk membuat kuih kosu ini berlubang di tengahnya, pastikan cetakan harus dalam keadaan panas sebelum adonan dituang ke cetakan. Tuang langsung ke cetakan yang ada di dandang. Jangan angkat cetakan ke luar dari dandang untuk mengisi adonan.

Pohul Pohul


Ada yang pernah makan pohul pohul? Pohul pohul merupakan penganan khas masyarakat Batak. Menurut Wikipedia, pohul pohul sering menjadi buah tangan bagi pihak keluarga yang datang berkunjung dalam rangka pembicaraan adat, misalnya: membicarakan rencana perkawinan putera dan puteri kedua belah pihak. Tentu saja pohul pohul ini merupakan buah tangan pendamping karena buah tangan utama yaitu masakan Ikan Mas. Pohul pohul dibentuk mengikuti siluet kepalan tangan, yakni bekas jari-jari yang membentuk pohul pohul tersebut sehingga bahan utama pembuatnya yakni tepung beras menjadi padat dan saling mengisi. Hal ini merupakan perlambang dari bagaimana pembicaraan adat di antara kedua belah pihak (paranak dan parboru) berlangsung. Dalam proses yang diwarnai oleh dialog dan negosiasi tersebut, adakalanya terjadi saling lempar perkataan yang menusuk atau menyinggung perasaan. Namun seperti pada pohul pohul di mana tepung saling mengisi dan saling memadatkan diri, kiranya diharapkan demikianlah perkataan-perkataan yang bersiliweran dalam pembicaraan adat, saling mengisi dan saling memadatkan dengan tiada lain tujuannya adalah untuk menyempurnakan hajatan adat yg sedang dipersiapkan.

Karena saya bukan dari keluarga Batak, saya tidak pernah mendengar, melihat, maupun mencicipi yang namanya pohul pohul. Saya baru tahu ada penganan ini pun dari NCC JTIW. Di laporan NCC JTIW, ada beberapa NCC-ers yang menyetorkan pohul pohul. Karena saya sangat penasaran, maka saya buat juga tadi pagi. Membuatnya juga sangat mudah. Kalau buat saya, rasa pohul pohul itu mirip dengan wingko babat versi kukus. Awalnya saya penasaran juga dengan tepung berasnya apa bisa mengikat kelapa atau tidak. Ternyata setelah diangkat dari kukusan, pohulnya bisa keras. Di resep asli menggunakan gula merah. Tapi karena saya ga terlalu doyan dengan gula merah, gula merahnya saya ganti dengan gula pasir. Resep saya modifikasi dari Mba Lidya yang tinggal di Jayapura. Karena hanya untuk uji coba, saya buat ga sampai setengah resep. Jika ingin melihat resep yang asli silakan klik disini. Resep di bawah ini yang sudah saya konversi ke ukuran yang lebih kecil. Dengan resep di bawah ini bisa menghasilkan 14 buah pohul pohul (kalau kepalannya sebesar saya ya, kalau kepalannya Kirana, hasilnya pasti akan lebih banyak).


Bahan:
100 gram tepung beras
200 gram kelapa parut, kukus 10 menit
40 gram gula merah, sisir (60 gram gula pasir)
Garam secukupnya
Daun pandan

Cara membuat:
- Panaskan dandang. Alasi dengan daun pandan.
- Campur kelapa parut, tepung beras dan garam. Aduk rata.
- Masukkan irisan gula merah (saya gula pasir).
- Ambil kira-kira 3 sendok makan adonan, lalu kepalkan dengan tangan sehingga terbentuk siluet genggaman tangan.
- Kukus sampai matang.

Kue Delapan Jam


Kue delapan jam merupakan kue tradisional dari bumi sriwijaya Palembang. Biasanya disajikan pada saat hari raya idul fitri dan hampir semua rumah di Palembang yang merayakan idul fitri pasti menyajikannya dan disajikan bersamaan dengan masubah. Masubah masih saudaraan dengan kue delapan jam karena resepnya sama, yang membedakan adalah masubah dipanggang mirip kue lapis legit sedangkan kue delapan jam dikukus. Nama dari kue delapan jam memang begitu karena kue ini dikukus selama delapan jam dan harus selama delapan jam karena jika kurang dari delapan jam maka kue akan lembek dan akan hancur ketika akan dikeluarkan. Aslinya menggunakan telur bebek, tapi karena di daerah saya telur bebek mahal, maka saya ganti dengan telur ayam.

Kue ini sudah lama bikin saya penasaran untuk membuatnya, dan juga sudah lama masuk list daftar kue yang akan saya buat (lama sekali sampai-sampai sayalupa kalo saya pernah mau bikin kue ini). Nah yang bikin saya tambah semangat untuk membuatnya ketika ada tamu yang belanja ke toko saya orang asli Palembang yang sedang berkunjung ke Pontianak. Beliau cerita tentang kue delapan jam dan masubah. Karena hasil ngobrol kami makanya saya tekadkan niat untuk mencoba membuatnya. Semenjak toko mulai renovasi, udah semingguan ini saya mulai ga bisa baking lagi. Karena sekarang toko pun sudah hampir selesai renovasinya, saya niatkan untuk memulai baking lagi, dan alhamdulilah sudah dimulai dengan kue delapan jam. Buat saya, kue delapan jam ini memang sangat enak serta legit rasanya. Ada khas rasa karamel karena proses pengukusan susu kental manis yang lama. Tapi kuenya sangat manis, serta ada tekstur bolong-bolong di kuenya khas telur kukus.


Resep saya gunakan dari almarhumah mba riri

Bahan:
10 btr telur ayam
1/2 klg susu kental manis
50 gram margarin cair
3 sdm terigu
500 gram gula pasir (boleh dikurangi kalo dirasa kemanisan, di resep sedap sekejab, penggunaan gula hanya 200 gram saja)
1/2 sdt garam
1/2 sdt vanilla essence

Cara Membuat:
- Dandang atau klakat dipanaskan dengan api kecil, tutup bagian atas / penutup dandang dengan kain atau handuk, biarkan beruap banyak.
- Gula dan telur diaduk sampai larut, bisa menggunakan whisk atau hand mixer dengan speed paling rendah.
- Masukkan terigu, garam, susu kental manis, margarin cair serta vanila essense, aduk hingga tercampur rata.
- Loyang 10x22x8 dioles mentega lalu tuang adonan di dalam loyang, kukus selama 8 jam. Apabila air di kukusan sudah hampir habis, tambahkan air panas ke dalam kukusan.
- Apabila sudah matang, biarkan kue dingin di dalam loyang supaya lebih set, apabila sudah dingin, keluarkan kue dari dalam loyang dan potong sesuai selera.

Mandapa


Kurang tahu juga aslinya kue ini berasal dari daerah mana. Kalau di daerah saya namanya bingka pisang. Mandapa ini beda dengan srikaya pisang.

Resep dari Tabloid Nova

Bahan:
1 sisir pisang --> saya pakai pisang berangan, tapi boleh pisang apa aja, yang penting pisang tersebut sudah mateng
100 ml santan kental --> karena saya ga suka santan, saya ganti susu cair aja.
100 gr gula pasir --> saya pakai 70 gram saja.
1 btr telur ayam
¼ sdt garam

Cara Membuat:
1. Kupas pisang, buang bagian tengahnya lalu lumatkan.
2. Tambahkan santan / susu cair, gula, telur dan garam. Aduk rata.
3. Masukkan adonan ke dalam loyang bulat 22x4 cm, yang telah dioles minyak goreng. --> saya pakai loyang segi empat ukuran 16 cm jadinya masih tipis.
4. Kukus hingga matang.

Catatan: sebaiknya kue dimasukan ke kulkas dulu sebelum dikeluarkan dari loyang, sebab ini bisa membuat kue menjadi lebih kokoh. Kue ini bersifat banyak air, jadi cara memakannya mesti menggunakan sendok.

Talam Tepung Beras Labu



Sebenarnya talam ini pake dua warna yaitu ijo dan putih. Tapi karena lagi malas, saya pakein warna putih aja. Terus sebagai tambahan, atasnya dikasi potongan labu kuning. Emang kue tanggung namanya.. kenapa ga sekalian aja dibuat talam labu ya... sebenarnya dari awal kepikiran mo buat talam labu kuning, tapi lagi males buat marut labunya. Jadinya ya hasilnya begini.

Resep didapat dari NCC Indonesia

Bahan:
200 gr tepung beras
50 gr tepung sagu
100 gr gula pasir
400 ml santan
1 sdt air kapur sirih --> saya ga pake
½ sdt garam
Labu kuning yang dipotong memanjang secukupnya

Cara Membuat:
- Taruh semua bahan dalam baskom, aduk rata sambil diremas-remas hingga menjadi adonan halus. Sisihkan.
- Siapkan cetakan mangkuk kecil, olesi minyak sayur, isi dengan adonan setinggi mangkuk, beri potongan labu kuning. kukus 30 menit.