Tampilkan postingan dengan label Seafood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seafood. Tampilkan semua postingan

Ikan Asam Padeh


Hai hai... ngeblog lagi setelah sekian lama 'menghilang'. Belum lama juga sih. Kemana aja Rika? Ga kemana-mana juga. Huhuhu. Di toko lagi banyak barang-barang datang. Jadi tiap hari sibuk aja kemasin barang. Kan puasa ga lama lagi. Jadi cetakan-cetakan juga sudah mulai berdatangan. Karena itulah masak pun seadanya. Bikin kue? Ga sempat kaka. Jadi hampir tiap malam beli martabak manis. Untung masih belum bosan makan martabak. Mudah-mudahan untuk ke depannya saya bisa lebih rajin posting ya.

Karena kangen ngeblog, jadi ini postingan sederhana tentang ikan asam pedas ala padang. Di padang bilangnya ikan asam padeh. Tumben bikin asam pedas? Karena pas ada dapet telur ikan. Kalau di saya, telur ikan itu paling oke dimasak seperti ini. Bakal terasa nikmatnya.

Ikan asam pedas itu bisa pakai ikan apa saja. Pas saya ada kakap jadi saya gunakan ikan kakap. Kalau ada tongkol, patin, atau bahkan ikan kembung pun hayuk aja.

Yang wajib dalam asam pedas itu adalah daun kunyit dan daun jeruk. Daun kunyit bisa diremas dulu baru disimpul biar ga berhamburan kemana-mana. Kalau saya, daun kunyitnya saya potong-potong. Untuk daun jeruk, sebenarnya daun jeruk purut itu akan lebih harum jika daunnya disobek dari batangnya. Ga percaya? Cobain aja.

Resep saya ambil dari bukunya Zulkaryani Lala Komala - Balado.

Bahan:
1 ekor ikan tongkol / tenggiri, cuci bersih, potong-potong (saya pakai ikan kakap beserta telur ikannya kurleb 750 gram)
1 buah jeruk nipis, ambil airnya
600 ml air
4 lembar daun jeruk purut (saya sobek)
1 lembar daun kunyit (saya potong-potong)
1 batang serai, memarkan
1 ruas lengkuas, memarkan
2 mata asam kandis

Bumbu Halus:
500 gram cabai merah keriting (saya gunakan 250 gram saja, supaya tidak pedas, semua biji saya buang)
10 butir bawang merah
4 siung bawang putih
1 ruas jahe
Garam secukupnya

Cara Membuat:
- Lumuri ikan dengan air jeruk nipis, diamkan selama 10 menit hingga meresap.
- Campur air dengan bumbu halus, daun jeruk, daun kunyit, serai, lengkuas, dan asam kandis menjadi satu. Masak hingga mendidih.
- Masukkan ikan, masak dengan api sedang hingga matang dan bumbu meresap. Angkat dan sajikan.

Udang Petai Tempoyak


Projek saya pagi ini adalah mengedukasi Pak Suami dengan tempoyak. Kebetulan kemaren pas belanja ketemu sama yang jual tempoyak. Sengaja beli tempoyaknya yang kemasan paling kecil. Kan cuma buat coba-coba doang. Jadi inilah hasil saya mengedukasi Pak Suami dengan tempoyak. Hasilnya.... makan sih, tapi sedikit, sisanya ya saya yang habiskan, aneh katanya.

Pak Suami yang dibesarkan oleh campuran jawa dan sulawesi tentu saja belum pernah kenal dengan tempoyak. Makan durian atau durian yang diolah jadi cake sih biasa, tapi ya dengan tempoyak belum kenal. Dulu pun Almarhum Bapak yang orang jawa ga suka dengan tempoyak.

Tempoyak familiar di daerah Bengkulu, Palembang, Lampung dan Kalimantan. Selain itu, makanan ini juga terkenal di Malaysia. Menurut Wikipedia, tempoyak diriwayatkan dalam Hikayat Abdullah sebagai makanan sehari-hari penduduk Terengganu. Ketika Abdullah bin Abdulkadir Munsyi berkunjung ke Terengganu sekitar tahun 1836, ia mengatakan bahwa salah satu makanan kegemaran penduduk setempat adalah tempoyak. Berdasarkan sejarah yang ada dalam Hikayat Abdullah, tempoyak merupakan makanan khas rumpun bangsa Melayu, yaitu suku bangsa Melayu di Malaysia dan Indonesia yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan.

Apa rasa tempoyak? Jika belum diolah, rasa tempoyak itu asin, asam, dan sedikit manis. Jika sudah diolah ke dalam masakan, yang tercium hanya aroma duriannya yang sangat kuat. Tempoyak bisa dicampurkan ke dalam ayam, ikan, udang, dan juga sambal. Apa tempoyak bisa dimakan begitu saja? Bisa, asal kuat aja dengan rasa asamnya.

Kalau di Pontianak, pas lagi panen raya, bakal banyak tempoyak yang dijual karena durian yang sudah beberapa hari belum laku terjual mulai berasa asam. Nah, durian yang mulai asam itu yang diambil untuk difermentasi menjadi tempoyak.

Kali ini tempoyaknya saya coba masak udang dan petai. Pake santan juga. Di resep pake santan sedikit, karena males cairin santan kental yang ada di freezer, saya pakai santan instant. Ternyata, jika menggunakan santan instant itu ga bakal keluar minyak dari santan. Walau semua bumbu sudah hampir kering dan santan juga sudah dimasak lama, tapi ya tetep gitu aja penampakannya. Ga akan memisah antara air dan minyaknya. Makanya penampakan udang dan petai saya ga jelas gini. Udang ketutup sama bumbu, cuma petainya doang yang kelihatan. Ya sudahlah..

Resep saya ambil dari bukunya Primarasa - Hidangan Eksotik Nusantara

Bahan:
12 ekor (kurleb 500 gram) udang berukuran besar (saya pakai udang ukuran sedang)
2 sdm minyak goreng
2 batang serai bagian putih, memarkan
5 lembar daun jeruk
200 gram tempoyak
2 papan petai, ambil isinya
10 butir cabai rawit merah (saya ga pake)
75 ml santan kental
1 sdm air asam jawa
1 sdt garam
1/4 sdt gula pasir
1 lembar daun kunyit, iris halus

Bumbu Halus:
5 buah cabai merah besar
5 buah cabai rawit merah (saya ga pake)
3 cm jahe
6 butir bawang merah
3 siung bawang putih

Cara Membuat:
- Kupas udang, biarkan ekornya. Belah punggung udang keluarkan urat hitam yang ada di dalamnya, cuci bersih, sisihkan.
- Panaskan minyak dalam wajan, masukkan serai dan daun jeruk, tumis hingga baunya harum. Masukkan bumbu halus, tumis hingga bumbu matang. Tambahkan tempoyak, aduk sesekali.
- Masukkan petai, cabai rawit, dan santan, masak terus sambil diaduk hingga mendidih. Tambahkan udang dan air asam jawa, aduk hingga udang berubah warna dan tercampur rata dengan bumbu. Tambahkan garam dan gula, aduk sebentar.
- Masukkan irisan daun kunyit, aduk dan masak sebentar, angkat. Hidangkan bersama nasi putih hangat.

Pendap


Masih edisi belajar moto ikan, saya uji coba dengan membuat pendap. Sudah lebih baik motonya? Ahh tentu saja masih kacau.

Pendap adalah masakan dari Bengkulu. Sekilas mirip ikan yang dibalado ya? Tapi beda lo. Pendap ini ikannya dikukus dulu dengan daun pisang seperti kalau kita bikin pepes, kalau udah matang baru dibuka dan disiram bumbu lagi. Bumbu pendap ini jauh lebih komplit dan ada penambahan santannya.

Pendap ini ada penambahan daun mangkok juga. Walau saya baru kali ini tahu daun mangkuk bisa dipake untuk masakan, tapi tetap saya pake. Daun mangkuk yang saya pakai untuk pendap ini masih kecil-kecil daunnya. Dulu waktu kecil daun mangkuk ini biasa saya pakai buat main masak-masakan. Apa fungsi daun mangkuk ini di dalam masakan, saya juga kurang tahu.

Pendap ini saya buat gara-gara mau memberdayakan pohon pisang yang bakalan ditebang imlek nanti. Jadi sebelum ditebang, saya berdayakan habis-habisan daun pisang yang masih bisa digunakan. Sepertinya nanti saya akan tetap merindukan pohon pisangnya. *edisi galau*

Resep diambil dari Tabloid Saji Edisi 303

Bahan:
5 ekor ikan kembung
2 cm lengkuas, dimemarkan
1 batang serai, dimemarkan
1 buah asam kandis
4 lembar daun mangkukan, diiris kasar
100 gram kelapa parut kasar, disangrai
1 sendok teh garam
1/4 sendok teh merica bubuk
1/2 sendok teh gula pasir
350 ml santan dari 1/2 butir kelapa
2 batang daun bawang, dipotong 1/2 cm
1 tangkai daun seledri, diiris kasar
2 sendok makan minyak untuk menumis
Daun pisang untuk membungkus

Bumbu Halus:
12 butir bawang merah
4 siung bawang putih
6 butir kemiri, disangrai
6 buah cabai merah besar
2 cm jahe
2 cm kunyit, dibakar

Cara Membuat:
- Remas-remas daun mangkukan dengan 1/2 sendok teh garam. Cuci bersih. Tiriskan.
- Lumuri ikan kembung dengan setengah bagian bumbu halus. Bungkus seperti pepes.
- Kukus di dalam kukusan yang sudah dipanaskan 30 menit sampai matang. Buka bungkus daunnya. Sisihkan.
- Panaskan minyak. Tumis sisa bumbu halus, lengkuas, serai, asam kandis sampai harum.
- Tambahkan daun mangkukan. Aduk sampai layu.
- Tambahkan kelapa parut. Aduk rata.
- Masukkan santan, garam, merica bubuk, dan gula pasir. Masak sampai matang dan kuah kental. Tambahkan kelapa sangrai, daun bawang, dan daun seledri. Aduk rata.
- Siram ke atas ikan.

Pepes Ikan Patin

 
Mari kita ngepepes. Ide bikin pepesan gara-gara tadi pagi saya galau ketika Pak Suami bilang beberapa pohon pisang yang ada di depan rumah mau ditebang. Pas pohonnya ada, saya ga kepengen manfaatin daunnya, malah disia-siakan. Lha, pas mau ditebang malah kepengen manfaatin apa yang bisa dimanfaatin dari pohon pisang. Ternyata saya bukan orang yang mudah move on. Ga mudah bagi saya melepas sesuatu itu pergi, bahkan hanya sekedar pohon pisang pun ternyata sulit. Tadi aja mikir, ntar kalau mau ditebang, kalau saya mau bikin lemper kah, atau arem-arem kah, atau nasi bakar kah, atau sekedar mau bikin pepes nyari daun pisangnya dimana. Masa mesti ke pasar beli dulu kan ya, mana mesti beli satu gulungan besar. Lha sekarang masih mudah, butuh daun pisang tinggal bawa pisau ke halaman depan rumah, tebang deh. Butuh alas buat moto, tinggal ambil. Lha terus kalau ga ada pohonnya gimana ya nanti? Entahlah. *edisi curhat*

Tadi ngepepes ikan patin. Ternyata Kirana dan Pak Suami suka kalau patin dipepes gini. Ikan patin biasanya ya saya goreng doang. Bosen kali ya mereka digorengin ikan mulu. Praktis kan ya kalau bikin ikan goreng, ga perlu pake mikir juga, tinggal goreng doang, selesai deh. Lha kalau dipepes gini banyak kerjanya. Pantesan aja kalau di restoran itu, harga ikan pepes mahal yak. Repot kan ya bikinnya. Sekali-kali boleh lah ya dibikin, asal jangan sering-sering.

Pepes patin ini jadi makan siang kami, ga keburu buat sarapan pagi. Jadi sarapannya ya tetep dengan ikan goreng. Kalau saya bikin pepes, daun pisangnya wajib dilayur biar daun pisangnya lemes ga mudah robek. Gimana cara ngelayur daun pisang? Kalau nenek saya dulu ngelayurnya dengan cara dijemur di atas seng. Sekitar sejam atau dua jam gitu lamanya. Kalau saya, ngelayurnya di atas kompor. Jadi api kompor mesti kecil, taruh daun pisang yang sudah dipotong-potong di atas api, bagian atas daun pisang menghadap ke api, bagian bawah daun pisang menghadap ke atas, jadi terbalik posisi daun pisangnya, kalau posisinya terbalik, mudah untuk ngeliatin perubahan warna daun yang sudah lembut. Warna daun pisang yang sudah dilayur menjadi lebih cerah. Geser-geser deh daun pisangnya sehingga semua permukaan daun sudah berubah menjadi lebih cerah. Lakukan sampai semua daun habis, selesai deh. Daun pisang siap digunakan.

Oh iya, saya pun biasanya menggunakan daun pisang yang dobel biar daun tetap aman dan daun ga rusak ketika dipanggang lama. Seringnya menggunakan 2 daun besar dan 1 daun kecil. Daun kecil taruh ditengah daun besar dengan posisi berlawanan ruas dengan daun yang besar. Hmm binggung saya jelasinnya. Jadi begini ya, dua lembar daun besar (daun besar ini biasanya saya ukur sebesar satu jengkal, tapi tergantung juga ukuran ikannya ya, kalau ikan lebih besar maka lebih besar juga daun yang digunakan) ditimpa, ruasnya horizontal. Satu lembar daun besar (daun kecil ini ukurannya 1/3 dari daun besar) ditaruh di atas daun besar, ruasnya vertikal. Begitu maksudnya. Mudah-mudahan paham ya.

Terus pas ngelipet pepes pun ujung daun sebaiknya menghadap ke atas supaya ketika dikukus meminimalisir bumbu yang bocor, ketika mau disematkan lidi pun, patahannya menghadap ke atas ya.

Eh iya, belum ketemu nih gimana caranya supaya bisa moto pepes yang cakep. Jadi ya motonya mati gaya.

Resep saya ambil dari bukunya Tim Dapur Demedia - Kumpulan Resep Sepanjang Masa. Ga hanya patin, ikan apapun bisa dipake menggunakan bumbu ini. Dijamin lezat.

Bahan:
1 kg ikan patin
2 butir jeruk nipis, ambil airnya
1 sdt garam
Daun pisang secukupnya untuk membungkus

Bumbu Halus:
10 butir bawang merah
6 siung bawang putih
15 buah cabai merah besar, buang bijinya (saya cuma pakai 6 cabai, stoknya tinggal segitu)
3 cm jahe
3 cm lengkuas
2 butir kemiri
1 sdm garam
1 sdm gula pasir

Bumbu Lain:
6 lembar daun salam
3 batang serai, iris 1 cm
2 ikat kemangi, ambil daunnya
3 batang daun bawang, iris 1 cm
6 buah belimbing sayur

Cara Membuat:
- Buang kotoran ikan patin, potong melintang, lalu cuci bersih. Lumuri ikan dengan air jeruk nipis dan garam. Biarkan selama 30 menit.
- Campur bumbu yang dihaluskan dengan ikan patin. Ambil selembar daun pisang., letakkan daun salam dan serai, lalu letakkan ikan. Taburi dengan kemangi, daun bawang, dan belimbing sayur. Bungkus dengan menyematkan tusuk gigi di kedua ujungnya. Lakukan hal yang sama hingga semua bahan habis.
- Kukus ikan di dalam dandang selama 5 jam hingga matang dan durinya lunak. Panggang pepes patin di atas bara api hingga dauunya kering, angkat, sajikan. (saya cuma kukus selama 1 jam saja)

Asam-Asam Udang


Hari ini saya masak asam-asam udang. Ada yang pernah makan? Atau ada yang sudah biasa makan? Kami di Pontianak tidak familiar dengan asam-asam. Kalau dilihat-lihat dari komposisi bahan dan rasanya, asam-asam udang yang saya bikin kali ini sama dengan asam pedas tapi pakai udang. Nah.. buat yang tinggal di Pontianak, pasti familiar dengan asam pedas. Kalau versi thailandnya itu tom yum dengan bahan yang minimalis tanpa tambahan apapun, hanya udang.

Kenapa hari ini tiba-tiba masak asam-asam udang? Karena pohon belimbing wuluh saya lagi panen. Buahnya cukup banyak. Tadi saya ambil untuk bikin asam-asam udang ini, terus ada saya sisain 10 buah disimpan di kulkas, rencana mau bikin asam-asam ayam yang entah kapan akan saya bikin. Nah tetangga sebelah dan sebelahnya lagi juga kebagian sekantong. Saya timbang kurang lebih @500 gram. Lumayan banyak kan panennya. Daripada sayang kebuang karena banyak yang jatuh, jadinya sering dibagi-bagiin. Dulu Mba Ina cerita bisa dibikin asam sunti, tapi saya males. Kata tetangga yang dibagiin, belimbing wuluh ini bisa juga disambel, tapi di rumah lagi libur nyambel gara-gara Ayah Kirana lagi maag. Jadi ya masak dengan belimbing wuluhnya terbatas juga.

Entah kenapa tiap ada yang kebagian belimbing wuluh ini senang banget. Pernah ada konsumen yang ambil barang ke rumah ngeliat pohon belimbing wuluhnya lagi panen, langsung minta, malem-malem pula ngambilnya. Pernah juga ada tetangga agak jauh dari rumah ketok-ketok pagar gara-gara kepengen dengan belimbing wuluhnya. Saya memang jarang ketemu penjual belimbing wuluh ini di pasar. Sebenarnya harganya ga mahal, tapi ya jarang ada yang jual. Alhamdulilah pohon belimbing wuluhnya masih bisa jadi ladang amal. Di pohon masih ada yang kecil-kecilnya. Lumayan buat nanti-nanti, siapa tahu kepengen bikin apa lah gitu.

Resep diambil dari bukunya Ayu Kharie - Paket Menu 30 Hari

Bahan:
250 gram udang, kupas, sisakan ekor
800 ml air

Haluskan:
4 butir bawang merah
3 siung bawang putih, goreng
2 butir kemiri, sangrai
1 cm kunyit, goreng
3 buah cabai merah kering, goreng
3 buah cabai merah besar, goreng
3 buah cabai merah keriting, goreng

8 buah belimbing wuluh, potong bulat
6 buah cabai rawit merah utuh
1 1/2 sdt garam
1/4 sdt merica bubuk
1/2 sdt gula pasir

Cara Membuat:
- Kupas udang, sisakan bagian ekor. Cuci bersih dan tiriskan.
- Didihkan air dan bumbu halus sampai harum dan matang.
- Masukkan belimbing wuluh, cabai rawit merah, garam, merica bubuk, dan gula pasir, aduk rata.
- Tambahkan udang, masak sampai mendidih dan matang. Angkat.

Ikan Bumbu Cabai


Postingan ga terlalu penting ini ceritanya. Semua pasti pernah makan ikan yang dicabein gini lah kan. Tapi siapa tahu ada yang baru turun ke dapur, semoga postingan ini cukup membantu. Ikan yang dipake bisa ikan apa saja. Saya pakai ikan kembung, tapi sayang, kembungnya kecil-kecil ini, anak kembung, mama kembung ga ada. Di penjual ikan yang lain juga sama, anak kembung yang dijual. Jadi ya saya ambil saja anak kembung ini, dapat dengan harga cukup murah pula, cuma 20 ribu per kilo.

Balik lagi ke cerita tentang ikan, sebenarnya sampai sekarang ini saya masih belajar bagaimana caranya memoto masakan menjadi lebih menarik. Buat saya, memoto makanan itu jauh lebih sulit dari memoto kue. Tingkat kesulitan moto makanan itu jauh lebih sulit. Diantara semua makanan, memoto ikanlah yang paling sulit. Makanya saya sedang mencoba-coba bagaimana memfoto ikan menjadi jauh lebih menarik. Sulit ternyata, saya belum dapat celahnya.

Untuk memfoto ikan ini saya tiga kali ganti plate dan 4 kali ganti alas. Dari sudut manapun difoto rasanya ga ada yang pas. Dari dua ikan hingga ikan menjadi tiga ekor. Dari tanpa napkin sampai dengan napkin buntut, akhirnya diputuskan ini yang lebih baik daripada yang lain. Masih belum puas nih. Nanti deh jika ada waktu luang, akan lebih banyak latihan foto ikan lagi.

Resep diambil dari bukunya Tim Dapur Demedia - Paket Menu Praktis Untuk Sehari-hari.

Bahan:
4 ekor ikan kembung (saya pakai 6 ekor ukuran kecil)
50 ml air asam (dari 1 sdt asam jawa)
1 sdt garam
Minyak untuk menggoreng dan menumis

Bumbu Halus:
5 butir bawang merah
2 siung bawang putih
7 buah cabai merah keriting
1/2 buah tomat
1/2 sdt terasi matang
1/2 sdt gula pasir
Garam secukupnya
2 batang serai, iris serong
2 lembar daun jeruk
75 ml air

Cara Membuat:
- Bersihkan ikan kembung, gurat-gurat sisinya. Lumuri dengan air asam dan garam, kemudian goreng sampai matang, kuning dan kecoklatan. Angkat.
- Panaskan empat sendok makan minyak, tumis bumbu halus bersama serai dan daun jeruk sampai harum dan matang. Tuang air, aduk dan biarkan sampai mendidih.
- Masukkan ikan goreng, masak dengan api kecil sampai air habis dan bumbu meresap. Angkat.

Tumis Sepi


Tumis sepi? Apa itu? Belum pernah dengar! Jadi tumis sepi adalah makanan khas Bima, Nusa Tenggara Barat, terbuat dari udang rebon yang disebut "sepi bou". Di Bima, tumis sepi ini biasa disajikan bersama lalapan, sayur bening, atau sayur asam.

Jadi tumis sepi ini nama lainnya adalah tumis udang rebon. Rasanya sedap... asem, pedas, dan gurih berpadu menjadi satu. Masakan yang murah meriah tapi sungguh nikmat. Alhamdulilah masih diberi nikmat makan.

Oh ya, pengen cerita soal pan yang saya pake ini. Ini saya pake udah lebih dari 10 tahun. Dulu dapet hadiah tukar stamp di Hypermart, mereknya Royalvkb (bisa dilihat di gagang di foto paling bawah). Sekarang saya udah males ngumpulin stamp, kalau pun dapat stamp entah kemana-mana stampnya. Makin kesini, makin kurang oke hadiahnya, mahal pula tambahan biayanya. Dulu awal make pan ini pas kami masih masak pakai kompor minyak tanah. Makanya bawahnya udah boncel-boncel. Tapi karena pan ini tebal, makanya sampai sekarang masih mantap dipake masak. Sesekali mejeng di foto bagus juga rupanya. Ini bukan promo pan ya..

Resep diambil dari bukunya Primarasa - Sedap-sedapan ala Indonesia

Bahan:
3 buah tomat hijau (saya gunakan 2 buah tomat oren, pas beli masih hijau, satu minggu di kulkas jadi oren tomatnya, jadi ya pake aja)
2 sdm minyak goreng
2 cm lengkuas, memarkan
1 batang serai, ambil bagian putihnya, memarkan
50 gram udang rebon kering, cuci, tiriskan
1/2 sdt gula pasir
1/2 sdt garam

Bumbu Iris:
3 siung bawang putih
6 butir bawang merah
2 buah cabai merah
2 buah cabai hijau
3 buah cabai rawit merah (saya ga pake)
4 lembar daun jeruk

Cara Membuat:
- Potong-potong tomat hijau menjadi 4-6 bagian atau sesuai selera, sisihkan.
- Panaskan wajan di atas api sedang, masukkan lengkuas dan serai, tumis hingga harum. Masukkan bumbu iris, tumis hingga bumbu harum dan agak layu.
- Masukkan udang rebon, aduk hingga rata dan udang bercampur bumbu.
- Masukkan tomat hijau, aduk hingga agak layu. Tambahkan gula dan garam, aduk rata, angkat.

Udang Gula Jawa


Masih dengan edisi masakan. Kali ini saya bikin udang gula jawa. Gula jawa itu apa ya? Gula merah apa gula aren? Yang kali ini saya bikin pakai gula aren karena pas ada stok gula aren yang sudah disisir. Ayah kirana itu tiap malem pasti minta dibikinin rebusan gula aren dan kunyit, katanya bagus untuk yang punya penyakit maag. Lebih ringan perutnya setelah minum rebusan gula aren dan kunyit.

Untuk area Pontianak, gula aren itu ga mudah ditemukan. Yang banyak dijual di pasaran yang dibungkus kantong plastik itu gula merah. Kalau gula aren ukurannya besar dan dibungkus dengan daun. Kata penjualnya gula merah itu dibuat dari pohon kelapa, kalau gula aren dibuat dari pohon aren. Gula aren lebih nikmat jika digunakan untuk minuman. Saya menemukan gula aren itu pas ada pameran. Gula arennya dari daerah Batang Tarang, Sanggau. Harganya pun juga 2 kali lipat dari harga gula merah. Karena langka kali ya jadinya mahal.

Balik lagi cerita udang gula jawa, rupanya udang dimasak ala ala gini enak lo. Eh tapi, udang itu diapa-apain juga enak kan ya. Harum dari jeruk purut sangat menggoda. Ga ada bau amis sama sekali. Padahal udang yang saya pakai udang yang sudah saya bekuin bukan udang segar. Tapi tetap paporit. Dimakan hanya dengan nasi hangat dan sambal udah enak banget kan ya....

Resep diambil dari bukunya Primarasa - Sedap-sedapan ala Indonesia

Bahan:
750 gram udang ukuran sedang
4 sdm minyak goreng
3 siung bawang putih, cincang
6 butir bawang merah, iris-iris
10 lembar daun jeruk
2 buah tomat hijau, cincang kasar (saya potong dadu)
2 buah cabai merah besar, iris 1 cm (saya cuma pakai 1 buah)
30 gram gula jawa, sisir
4 sdt air asam jawa
1 1/2 sdt garam
1/4 sdt merica bubuk
125 ml air

Cara Membuat:
- Kupas udang, biarkan ekornya. Belah punggung udang jangan sampai putus. Buang urat hitamnya. (ekor udang saya buang supaya Kirana lebih mudah makannya)
- Panaskan wajan di atas api sedang, beri minyak goreng. Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum. Masukkan daun jeruk, aduk rata.
- Tambahkan tomat, cabai, gula jawa, air asam, garam, dan merica. Tuangi air, aduk rata.
- Masukkan udang, aduk hingga udang berubah warna, dan biarkan hingga mendidih, angkat.
- Pindahkan masakan ke dalam wadah saji, hidangkan.

Gabus Pucung


Pucung itu dalam bahasa betawi artinya keluak. Ini pertama kalinya saya mengolah ikan dengan menggunakan keluak. Ternyata enak ya. Keluak saya beli di Pasar Flamboyan di ibu-ibu yang menjual jeruk nipis, daun jeruk nipis, kemangi, daun melinjo, melinjo. Harganya 3 buah keluak lima rebu. Mahal ya? Tapi keluak yang dijual di Flamboyan itu isinya bagus, ga terlalu kering dan kopong kayak di Hypermart.

Cerita soal keluak, ternyata keluak itu beracun jika mengolahnya tidak tepat. Makanya hampir di semua resep, daging keluak itu direndam di air panas. Itu berfungsi untuk menetralisir si keluak. Dan kita pun ga disarankan untuk mengkonsumsi masakan yang ada keluaknya setiap hari. Kalau sekali-kali boleh. Tapi kalau tiap hari, dikhawatirkan berdampak ga bagus untuk kesehatan.

Resep saya ambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia

Bahan:
2 ekor ikan gabus @300 gram
1 sdm air asam yang kental
1 sdt garam
2 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk purut
2 buah tomat, belah 4-6
1 batang serai, memarkan
2 batang daun bawang, potong 3-4

Bumbu Halus:
2 buah cabai merah (saya pakai 1 cabe keriting)
3 siung bawang putih
6 buah bawang merah
1/2 sdm ketumbar sangrai (saya pakai ketumbar bubuk)
1/2 sdt merica bulat (saya pakai merica bubuk)
1 sdt kencur cincang
1/2 sdt jahe cincang
1/2 sdt kunyit cincang (saya pakai kunyit bubuk)
3 sdt lengkuas cincang
3 buah keluak, ambil dagingnya, rendam di air panas

Cara Membuat:
- Lumuri dan diamkan ikan dalam campuran air asam garam. Diamkan selama 15 menit, tiriskan.
- Tumis bumbu halus dengan 3 sdm minyak gorengsampai harum. Masukkan semua sisa bahan, kecuali daun bawang. Beri 750 ml air, didihkan. Masukkan ikan. Beri 1 sdt garam dan daun bawang. Masak dengan api kecil sampai matang dan kuah terasa enak.

Pindang Patin


Patin merupakan ikan yang sangat bagus nilai gizinya. Buat batita yang masih mpasi pun disarankan untuk banyak mengkonsumsi ikan patin ini. Tetapi tidak semua orang menyukai ikan patin karena baunya yang cukup khas ketika dimasak. Saya pribadi cukup menyukai ikan patin karena banyak lemaknya. Bisa digoreng, dimasak kuning, atau dimasak asam pedas, nikmat sekali...

Pas tadi belanja ke Pasar Flamboyan, saya menemukan lapak ikan yang menjual ikan patin ini, murah pula, sekilo cuma 22 ribu. Saya beli 2 ekor dengan berat kurang lebih 1 kg per ekornya. 1 ekornya saya masak pindang patin. 1 ekornya akan saya pikirkan nanti saja jika sudah mau dimasak.

Pindang patin ini masakan khas dari Sumatera Selatan. Aslinya menggunakan kecombrang di dalam masakan. Lha.. di Pontianak ga pernah ketemu kecombrang. Jadi ini ga terlalu otentik pindang patin karena tanpa kecombrang. Cabe pun banyak yang saya kurangi biar Kirana juga bisa ikut makan. Pindang patin yang dari Sumatera Selatan ini buat saya kok malah mirip asam pedas ya?

Resep saya ambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia

Bahan:
1 ekor (1 kg) ikan patin, potong 4-5
2 sdm air jeruk nipis / 1 sdm air asam kental
1 1/4 liter air
5-6 buah tomat mentah / hijau, belah 2-4
3 buah cabai merah, iris serong 1 cm (saya ga pake)
10 buah cabai rawit (saya ga pake)
3 lembar daun salam
2 batang serai, memarkan
25 lembar daun kemangi
1-2 buah kecombrang, belah 2 (saya ga pake)
5-6 cm kunyit bakar, belah 2 (saya pakai kunyit bubuk)
3 cm jahe, memarkan
3 cm lengkuas, memarkan
2 sdt asam jawa + 3 sdm air panas, remas dan saring
2-3 sdm kecap manis
1-2 sdm gula merah

Bumbu Halus:
8 buah cabe merah (saya pakai 2 buah)
8 buah bawang merah
1 sdt garam

Cara Membuat:
- Lumuri ikan dengan air jeruk nipis / air asam, diamkan 15 menit, tiriskan.
- Didihkan air, masukkan bumbu halus dan semua bahan sisa bahan lain, kecuali ikan dan kemangi
- Setelah mendidih, masukkan ikan, didihkan kembali. Kecilkan api, masak sampai semuanya matang dan kuah sedap. Saat diangkat, masukkan kemangi.

Bagar Udang Pancet


Udang pancet itu adalah udang yang berukuran cukup besar yang cangkangnya berwarna hitam. Pas belanja di Pasar Flamboyan, saya cuma menemukan yang ukurannya ga terlalu besar. Sedang ukurannya. Udang itu jika sebelum diolah besar ukurannya. Ketika sudah diolah akan menciut, apalagi jika digoreng akan lebih menciut lagi. Makanya udang yang saya masak ini terlihat kecil padahal waktu mentahnya besar ukurannya.

Kali ini udangnya saya masak bagar. Bagar udang pancet merupakan masakan dari Sumatera Selatan. Yang khas dari bagar ini adalah menggunakan klabet. Pernah dengar? Klabet itu bijinya digunakan sebagai rempah dan daunnya bisa digunakan sebagai obat herbal. Klabet itu umumnya digunakan untuk masakan kari dari Asia Selatan. Masakan Indonesia jarang yang menggunakan klabet ini. Saya pun dapat klabet kering yang botolan.

Resep saya ambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia

Bahan:
10 ekor udang pancet, buang moncongnya (saya gunakan 250 gram)
3-4 sdm kelapa parut, sangrai, tumbuk halus
1/2 butir pala. memarkan
3 butir cengkih
4 butir klabet (fenugreek)
2 lembar daun salam
1 sdm air asam jawa atau 1 potong asam kandis

Bumbu Halus:
6 buah cabai merah
10 buah bawang merah
3 siung bawang putih
1 sdm ketumbar sangrai (saya pakai ketumbar bubuk)
1/4 sdt jintan sangrai
2 cm kunyit (saya pakai bubuk)
2 cm jahe
1 sdt garam

Cara Membuat:
- Campur udang bersama 1/2 sdt garam dan 1 sdm jeruk nipis, diamkan 10 menit, tiriskan.
- Tumis bumbu halus dengan 3 sdm minyak sampai matang. Kecuali idang, masukkan semua bahan lainnya, dan 500 ml air. Didihkan, masukkan udang. Masak dengan api kecil sampai kuah berminyak.

Ikan Maskrim


Saya itu entah kenapa lebih menyukai ikan ketimbang bahan makanan lain seperti daging, udang, ayam, atau sotong. Makanya tiap belanja, yang paling banyak dibeli ikan ketimbang yang lain. Mungkin karena ingatan akan masa lalu kali ya.

Dulu nenek dari ibu sering sekali memasak ikan buat saya. Ikan dimasak kuning yang dibilang ikan pindang. Dulu saya paling suka ikan juara. Pernah dengar? Ada juga yang bilang ikan juare. Ikan juaranya dimasak pindang juga. Jadi ikan sudah lama diperkenalkan kepada saya dan saya suka itu. Beda dengan anak sekarang yang lebih suka ayam daripada ikan. Fiuhhh...

Biasanya ikan kembung paling cuma saya goreng. Tadi mau cobain gaya baru. Ikan kembungnya saya masak kuning. Ikan maskrim ini berasal dari maluku. Memiliki cita rasa pedas dan asam tapi kuah tetap bening. Sukaaa deh. Sayang ayah kirana ga suka. Dia lebih memilih ikan yang sudah saya masak maskrim ini digoreng kembali.

Resep saya ambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia

Bahan:
500 gram ikan kembung, bersihkan
2 sdm asam jawa + 100 ml air
2 lembar daun pandan, potong 5 cm
15 buah belimbing wuluh, belah 2
10 buah cabai rawit utuh
1/2 sdt merica bubuk
1-2 sdt garam
300 ml air

Bumbu Halus:
10 buah bawang merah
2 sdt kunyit cincang
3 batang serai, ambil bagian putihnya, iris tipis
1 sdt garam

Cara Membuat:
- Lumuri ikan dengan 1/2 bagian larutan asam dan 1 sdt garam. Diamkan 30 menit, tiriskan.
- Tumis bumbu halus sampai harum. Tuangkan air sambil masukkan semua sisa bahan, kecuali ikan dan air asam. Didihkan, beri air asam, masukkan ikan, masak sampai matang dan kuah terasa cukup asam.

Acar Kupang


Namanya acar, tapi rasa asam dari cuka kurang dominan. Kata ayah kirana malah ga berasa asamnya. Tapi karena ga asam, saya jadi mau makan. Saya itu bukan pecinta acar. Saya ga suka rasa dan bau cuka yg kuat. Tapi acar kupang ini cukup bisa ditolerir oleh lidah saya. Suka deh... acar kupang ini betul-betul nikmat.

Saya sengaja memilih udang yang berukuran cukup besar. Biar bisa bersihin bagian punggung udangnya dengan mudah. Jika udang yang digunakan berukuran kecil, maka membersihkannya akan memakan waktu yang cukup lama. Jadi saran saya, pilihlah udang yang berukuran cukup besar.

Oh ya kenapa dinamakan acar kupang, karena acar ini memang berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Resep diambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia.

Bahan:
250 gram udang, kupas, belah punggungnya tanpa terputus
2 buah (350 gram) mentimun, dibelah 2 tanpa biji, potong dadu 1 cm
1 batang seledri, iris kasar
1 buah tomat, potong dadu 1.5 cm
4 buah cabai merah, iris serong
6 buah bawang merah, iris tipis
1 cm jahe, iris tipis
1 sdt cuka
1 sdt merica bubuk
1 sdt garam
1 sdm gula pasir

Cara Membuat:
- Dengan 3 sdm minyak goreng, tumis bawang merah, jahe, dan irisan cabai sampai layu.
- Masukkan udang, aduk, setelah berubah warna beri 125 ml air, didihkan.
- Matikan api, masukkan semua sisa bahan lainnya kecuali seledri. Aduk rata, biarkan 10 menit sebelum disajikan supaya bumbu meresap baik.
- Campurkan seledri, aduk rata dan sajikan.

Gerang Asem Be Pasih


Gerang Asem Be Pasih ini adalah masakan khas dari daerah Bali. Unik banget rasa dari masakan ini. Udang, cumi, dan ikan dicampur jadi satu. Baru kali ini nih saya makan seafood yang dicampur aduk seperti ini. Biasanya makan ikan ya ikan aja, atau cumi ya cumi aja, atau udang ya udang aja.

Selama puasa ini mudah-mudahan tetap rajin posting ya. Biarpun cuma posting makanan. Belum sempat bebikinan kue soalnya. Udah duluan cape di toko, apalagi dalam kondisi puasa dan toko sedang ramai-ramainya, jadi tubuh mudah lelah. Kalau udah di rumah, bawaannya mau cepat merem aja. Karena di rumah tanpa asisten jadinya ya masih disempetin masak setelah tarawih. Setelah tarawih??? Iya... Jadi makan malam jam berapa? Hmm bisa jam 21.00 atau jam 21.30. Kok bisa? Karena saya ga terbiasa langsung makan berat ketika berbuka puasa. Ketika berbuka puasa, makan kue dan minum air yang sangat banyak. Pontianak panas cynnn. Benar-benar panas.

Resep diambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia

Bahan:
150 gram udang, buang kepalanya
2 ekor (200 gram) cumi, potong 1 cm
200 gram daging ikan kakap / tuna / kuwe / tenggiri - potong dadu 2 cm (saya pakai tenggiri)
10 buah cabai rawit utuh / dimemarkan (saya cuma pakai 2)
4 buah belimbng sayur, potong 2 cm
2 lembar daun jeruk purut, buang tulang daunnya, sobek-sobek
2 lembar daun salam
2 batang serai, memarkan
1 sdt gula merah

Bumbu Halus:
5 buah bawang merah
6 siung bawang putih
3 butir kemiri sangrai
1 sdm kunyit cincang (saya pakai kunyit bubuk)
1 sdm kencur cincang
1 sdm lengkuas cincang
1 sdt terasi
1 sdt garam

Cara Membuat:
- Dengan 3 sdm minyak, tumis bumbu halus cabai rawit, dan semua daun sampai harum. Tuangkan 750 ml air, didihkan. Masukkan cumi, kecilkan api setelah mendidih kembali. Masak kurleb 15 menit sampai cumi empuk.
- Besarkan api, tambahkan 200 ml air panas jika kuah berkurang banyak. Masukkan belimbing sayur, ikan, dan udang. Kecilkan api, masak selama 15 menit sampai seluruhnya matang. Beri air asam dan gula merah, aduk, angkat setelah rasa kuah cukup asam. Sajikan dengan taburan bawang goreng.

Pangek Ikan



Maaf ya sering posting tentang ikan gabus. Mudah-mudahan ga bosan dengan postingan saya. Maklum Kirana lagi harus makan ikan gabus untuk meningkatkan albumin di dalam darahnya. Jadi saya usahakan kami serumah makan ikan gabus, kalau lagi ada stok 2 hari sekali, itupun dihemat-hemat.

Kali ini saya coba bikin pangek ikan. Salah satu masakan khas dari Sumatera Barat. Kalau buat saya pangek ikan ini mirip ikan pindang. Dimasak dengan kuah kuning gitu. Alhamdulilah kirana suka. Takaran cabe pun dikurangkan supaya Kirana bisa makan.

Resep diambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia

Bahan:
1 ekor (800 gram) ikan laut / sungai yang berdaging tebal, potong 3-4 (saya pakai gabus)
1 lembar daun kunyit
2 batang serai, memarkan
5 lembar daun jeruk purut, buang tulang daunnya
1-2 potong asam kandis

Bumbu Halus:
10 buah cabai merah (saya cuma pakai 3)
8 buah bawang merah
1 siung bawang putih
1 sdm jahe cincang
1 sdt kunyit cincang
1 sdt lengkuas cincang
3 buah kemiri, sangrai
1 sdt garam

Cara Membuat:
- Lumuri ikan dengan 1 sdm air jeruk nipis dan 1 sdt garam, diamkan 15 menit, tiriskan.
- Taruh ikan bersama bumbu halus beserta semua bahan dalam wajan, tuangi air sampai ikan terendam. Masak dengan api kecil sampai asat dan ikan matang.

Pindang Serani


Mari mengolah ikan gabus lagi. Buka-buka buku resep dan kali ini pilihan jatuh pada pindang serani. Salah satu masakan ikan yang berasal dari Jawa Timur. Sebenarnya hampir-hampir mirip masakan Indonesia antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Palingan hanya berbeda sedikit bumbu saja dan beda nama. Ahh cinta saya dengan Indonesia.

Kuah yang saya bikin, kuningnya lebih pekat. Aslinya berwarna kuning muda. Warnanya bisa berbeda kemungkinan besar karena saya menggunakan kunyit bubuk. Kalau dari segi rasa mungkin tidak ada perbedaan.

Resep diambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia

Bahan:
800 gram bandeng / belanak / senangin, dll (saya pakai ikan gabus)
1 sdm air jeruk nipis
10 buah cabai rawit
1-2 batang serai, memarkan
2 lembar daun salam
2 cm lengkuas, memarkan
2 sdm air asam kental
3 buah belimbing sayur / tomat hijau
1 sdm gula merah

Bumbu halus:
7 buah bawang merah
3 siung bawang putih
4-5 cm kunyit, sangrai sampai agak hangus, kupas (saya pakai kunyit bubuk)

Cara Membuat:
- Lumuri ikan dengan campuran 1 sdm air jeruk nipis dan 1 sdt garam, diamkan 10 menit lalu tiriskan.
- Tumis bumbu halus dengan 3 sdm minyak sampai harum. Beri kurleb 700 ml air dan air asam, didihkan. Masukkan ikan dan sisa bahan lainnya, kecilkan api. Masak sampai ikan matang dan bumbu meresap. Perbaiki rasanya untuk memperoleh kuah yang kuat asam dan manisnya, berwarna kekuningan.

Kelapathe


Mari membuat olahan ikan lagi. Kali ini olahan ikan dari Madura. Sebenarnya ikan itu paling bagus dimasak berkuah seperti ini. Jika dimasak berkuah, nilai gizi ikan tetap terjaga. Beda dengan ikan yang digoreng. Manfaat gizi ikan sudah banyak yang hilang. Makanya orang-orang tionghoa lebih suka memasak ikan dengan membuatnya menjadi sup ikan. Dimasak seperti ini pun bagi saya sama saja dengan sup ikan. Yang penting ikannya berkuah.

Saya itu paling ga pandai memotong-motong entah itu ikan, daging sapi, atau ayam. Jadi jika melihat ikan atau daging atau ayam di foto-foto saya itu terlihat dipotong dengan cantik, percayalah jika bukan saya yang memotongnya. Jika saya yang memotong ikannya, maka bisa dipastikan tak akan berbentuk potongan ikan lagi. Contohnya kelapathe ini, tampak amburadul dan tak terlihat seperti ikan bukan? Kalau ke pasar tradisional beli daging, ikan, atau ayam, pasti langsung minta dipotongin sama penjualnya. Jadi saya itu hampir ga pernah memutilasi binatang. Saya itu tahunya beres. Ikan, ayam, atau daging sudah terpotong dengan rapi. Sampai di rumah dibersihin, Taruh wadah tertutup, terus masukkan ke freezer. Selesai deh.

Nah.. pas hari itu Ayah Kirana yang beli ikan tenggiri, beli sekilo kena 45 ribu. Pas dibawa ke rumah, saya buka kantongnya dan langsung shock. Ikannya masih utuh, belum terpotong. Langsung ga enak perasaan dan berpikir keras gimana motongnya. Oke.. tarik napas yang panjang, siapkan parang, bersiap untuk memotong. Ikannya besar, udah kebayang betapa cantiknya ikan ini ketika difoto. Dan ketika mulai dipotong, ikan itu tak seindah yang saya bayangkan. Susah cyn motong ikan. Parangnya kali ya yang ga tajam (parang pulak yang disalahin). Dan gara-gara ikan itu, kapalan yang ada di tangan saya pun kumat, membengkak. Karena kondisi itulah akhirnya ikannya dipotong apa adanya. Asal kepotong aja. Dan beginilah tampilannya. Ga boleh ketawa ya...

Resep diambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia

Bahan:
1 ekor (500 gram) ikan laut berdaging tebal (tenggiri, kakap, kuwe, senangin, kembung)
1 sdt air asam
1/2 sdt garam
350 ml santan dari 1/2 butir kelapa
10 buah belimbing sayur, iris 1/2 cm
2 cm lengkuas, memarkan
1/2 sdt gula merah

Bumbu Halus:
5 buah bawang merah
2 siung bawang putih
5 buah cabai merah
1 sdt ketumbar sangrai
1/2 sdt merica bulat (saya pakai merica bubuk)
1/2 sdt terasi
1 sdt garam

Cara Membuat:
- Potong ikan sesuai selera, lumurkan campuran air asam dan garam, diamkan kurleb 10 menit, tiriskan.
- Goreng / panggang / kukus ikan sampai matang, sisihkan. Sambil diaduk, didihkan santan, lengkuas, dan bumbu halus. Masukkan ikan, gula, dan belimbing sayur. Setelah mendidih kembali, kecilkan api, masak sampai kuah agak mengental sambil sesekali diaduk.

Balado Kentang Udang


Pasti ibu-ibu sudah sering ya bikin kentang dimasak dengan cabe dan udang seperti ini. Jadi ceritanya mo nyobain resep di buku. Alhamdulilah saya dapat buku lagi. Kali ini dapat buku dari Bu Cit. Hadiah dari NCC Week menu ramadhan & lebaran. Terima kasih ya Bu Cit.

Uji coba pertama saya bikin balado kentang udang, karena stok di kulkas pas ada kentang dan udang. Hmm enak.. Karena Bu Cit terima kateringan, pasti resepnya sudah teruji dong ya..

Resep diambil dari bukunya Anggraini Citra Kusuma - Paket Menu Komplit 30 Hari

Bahan:
500 ml minyak goreng
2 buah kentang, potong dadu 1 cm
300 gram udang, kuliti

Bumbu Halus:
8 siung bawang merah
3 siung bawang putih
7 buah cabai keriting
1 buah tomat
1 sdt garam
1/2 sdt gula pasir

Cara Membuat:
- Panaskan minyak, goreng kentang hingga matang.
- Kurangi minyak bekas menggoreng kentang hingga tersisa 2 sdm, tumis bumbu halus hingga harum.
- Masukkan udang, masak hingga berubah warna
- Tambahkan kentang, aduk rata. Masak hingga kentang empuk dan bumbu meresap. Angkat dan sajikan.

Penanci


Masih mengolah ikan gabus nih buat Kirana. Kali ini dibikin penanci. Penanci itu masakan khas dari Kalimantan Selatan. Dimasak dengan kuah kuning gitu. Kalau di Pontianak dibilangnya ikan masak pindang. Alhamdulilah.. dimasak seperti ini Kirana lahap sekali makannya. Lebih lahap ketimbang dibikin gangan asam yang kemaren itu. Yang sehat ya nak, nanti kita berburu ikan gabus lagi demi albumin.

Penanci ini aslinya menggunakan daun kemangi. Tapi pas ke pasar, kemangi lagi kosong, jadinya saya bikin penanci tanpa kemangi. Semoga tidak merubah pakem ya.

Resep saya ambil dari bukunya Yasaboga - Dapur Indonesia.

Bahan:
500 gram ikan sungai, bersihkan, potong 2 (saya gunakan ikan gabus dengan berat 750 gram, potong 5)
2 sdt air asam jawa + 1 sdt garam + 2 sdm air
7 buah bawang merah, iris tipis
3 siung bawang putih, iris tipis
3 cm kunyit, iris tipis
3 batang daun bawang, potong 1 cm
30 lembar daun kemangi (saya ga pake)
1-2 bh tomat, cincang kasar
1 sdt air asam jawa
1/4 sdt gula pasir
1 sdt garam
350 ml air

Cara Membuat:
- Kerat badan ikan, lumuri dengan campuran asam jawa dan air. Diamkan kurleb 15 menit, tiriskan.
- Tumis bawang putih dan merah dengan 3 sdm minyak goreng sampai harum, masukkan tomat dan kunyit, beri air, air asam, dan gula, didihkan. Masukkan daun bawang, ikan, dan kemangi. Beri garam dan gula pasir. Masak sampai matang, kuah terasa asam, dan masih cukup banyak.

Kekian Udang Asam Pedas


Kali ini coba bikin kekian. Awalnya kekian ini mau saya masukkan sebagai homeworknya saya di kitchen blog - dimsum. Pas tanya ke host dimsum yaitu Mba Ina Moulina, apakah kekian masuk ke kategori dimsum ato ga, mba Ina bilang masuk karena biasa disajikan sebagai pendamping dimsum. Nah.. yang jadi soal itu, kekian saya ini kok ga mirip dengan kekian yang biasa jadi temannya dimsum itu. Kekian yang ini malah mirip bakwan udang. Terus kekian yang saya bikin ini sebenarnya pelengkap cap cay. Jadi ya ga masuk ke kategori dimsum kayaknya. Maaf yo Mba Ina kali ini saya ga jadi setor. Insya allah ntar bikin yang beneran dimsum.

Kekian ini enak lo. Kalau saya ga jadi pelengkap capcay. Dimakan gitu aja atau dimakan dengan nasi hangat sudah nikmat sekali. Sausnya juga enak.

Resep saya ambil dari Majalah Sedap Edisi 3/IX/2008. Oh ya.. majalah sedap ini hadiah dari Ummu Alegra waktu menang di NCC Brownies Week. Alhamdulilah, referensi memasak saya jadi bertambah.

Bahan:
50 gram udang, cincang halus
100 gram tepung terigu protein sedang
25 gram tepung sagu
1 butir telur
1 batang daun bawang, iris halus
1/2 sdt garam
1/4 sdt merica bubuk
1 siung bawang putih, haluskan
125 ml air es
Minyak untuk menggoreng

Bahan Saus:
3 siung bawang putih, memarkan
1 buah cabai merah besar, buang biji, iris halus (saya ga pake)
1 buah tomat, buang biji, potong kotak
50 gram saus tomat
1/4 sdt garam
2 sdt gula pasir
4 tetes cuka (saya ganti dengan air perasan jeruk nipis)
250 ml air
1/4 sdt kaldu ayam bubuk (saya pakai kaldu jamur)
1 sdm tepung sagu dan 1 sdm air, larutkan untuk pengental
1 batang daun bawang, potong miring
1 sdm minyak untuk menumis

Cara Membuat:
- Kekian, aduk rata bahan, sendokkan dalam minyak yang sudah dipanaskan sampai matang, Angkat dan tiriskan.
- Saus, tumis bawang putih dan cabai merah besar sampai harum. Tambahkan tomat, saus tomat, garam, gula pasir, dan cuka. Aduk rata.
- Masukkan air dan kaldu ayam bubuk. Didihkan. Kentalkan dengan larutan tepung sagu. Masak sampai meletup letup. Tambahkan daun bawang, Aduk rata.
- Sajikan kekian setelah disiram saus.